Khotbah Jumat · Kisah & Sejarah Sahabat Nabi · 29 September 2026

Kedermawanan Utsman bin Affan yang Menginspirasi Dunia

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam yang tak henti-hentinya mencurahkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, hingga nikmat kesehatan yang memungkinkan kita melangkahkan kaki menuju rumah-Nya yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan abadi bagi umat manusia, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Di hari yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab, hanya bekal takwalah yang akan menyelamatkan kita di dunia yang fana ini dan di akhirat yang kekal nanti.

Pada kesempatan yang berharga ini, mari kita sejenak menoleh ke belakang, membuka lembaran sejarah emas peradaban Islam. Kita akan menyelami samudera kedermawanan salah seorang sahabat terbaik Rasulullah SAW, sosok yang dijuluki Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya), yakni Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Di tengah kehidupan modern yang seringkali membuat kita terjebak dalam sifat individualisme dan materialisme, kisah kedermawanan Utsman bin Affan hadir sebagai oase yang menyejukkan sekaligus tamparan lembut bagi hati kita yang mungkin mulai mengeras. Beliau bukan sekadar orang kaya yang dermawan, melainkan seorang visioner yang mengajarkan bahwa harta di tangan orang yang beriman adalah instrumen paling dahsyat untuk membangun peradaban dan meraih ridha Ilahi.

2. Isi Materi

Poin pertama: Filantropi sebagai Solusi Krisis Kemanusiaan (Kisah Sumur Ruma)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kedermawanan Utsman bin Affan bukanlah kedermawanan yang muncul hanya saat kondisi lapang, melainkan kedermawanan yang hadir sebagai solusi nyata di saat umat sedang terjepit kesulitan. Salah satu fragmen sejarah yang paling ikonik adalah kisah Sumur Ruma. Saat itu, Madinah sedang dilanda kekeringan hebat. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah Sumur Ruma milik seorang Yahudi yang menjual airnya dengan harga yang sangat mahal. Kaum Muslimin yang saat itu mayoritas adalah kaum Muhajirin yang baru berhijrah, merasa sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Melihat penderitaan umatnya, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang membeli Sumur Ruma, maka baginya surga." (HR. An-Nasa'i no. 3608). Mendengar janji surga tersebut, Utsman bin Affan tidak berpikir dua kali. Beliau segera mendatangi pemilik sumur tersebut. Namun, pemiliknya menolak menjual seluruh sumur itu. Dengan kecerdasan bisnisnya, Utsman menawarkan untuk membeli setengah dari kepemilikan sumur tersebut, di mana satu hari sumur itu milik Utsman dan hari berikutnya milik si Yahudi. Tawaran itu diterima.

Pada hari kepemilikannya, Utsman mengumumkan kepada seluruh penduduk Madinah untuk mengambil air sebanyak-banyaknya secara gratis untuk kebutuhan dua hari. Akibatnya, pada hari giliran si Yahudi, tidak ada seorang pun yang membeli airnya. Akhirnya, si Yahudi pun menjual sisa kepemilikan sumur itu kepada Utsman. Utsman kemudian mewakafkan sumur tersebut untuk kepentingan seluruh umat Islam tanpa memungut biaya sepeser pun.

Pelajaran besar dari poin ini adalah bahwa kedermawanan harus memiliki dampak sosial yang luas. Di era digital saat ini, kita sering melihat krisis air bersih atau bencana alam di berbagai belahan Indonesia. Utsman mengajarkan kita untuk tidak hanya menjadi penonton di media sosial, tetapi menjadi aktor solusi. Jika kita memiliki kelebihan harta, gunakanlah untuk membangun infrastruktur yang manfaatnya abadi, seperti sumur bor di daerah kekeringan atau sistem sanitasi di pemukiman kumuh. Hikmahnya adalah harta yang kita miliki akan menjadi saksi pembela di hadapan Allah jika ia digunakan untuk menghapus air mata sesama. Utsman membuktikan bahwa kekayaan yang dikelola dengan iman akan melahirkan kemaslahatan yang tak terbatas oleh waktu.

Poin kedua: Pengorbanan Totalitas dalam Menghadapi Krisis (Jaisyul Usrah)

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Kedermawanan Utsman bin Affan kembali diuji saat berkecamuknya Perang Tabuk, yang juga dikenal sebagai Jaisyul Usrah atau Pasukan Kesulitan. Mengapa disebut pasukan kesulitan? Karena saat itu Madinah sedang dilanda musim panas yang sangat menyengat, jarak tempuh menuju medan perang sangat jauh, dan kondisi ekonomi umat sedang berada di titik nadir. Rasulullah SAW menyeru para sahabat untuk menyumbangkan harta terbaik mereka guna membiayai pasukan ini.

Utsman bin Affan tampil ke depan dengan kontribusi yang mencengangkan. Beliau menyumbangkan 1.000 ekor unta, 70 ekor kuda, dan 1.000 dinar emas yang beliau tuangkan di pangkuan Rasulullah SAW. Melihat totalitas pengorbanan ini, Rasulullah SAW sampai bersabda dengan penuh haru: "Apa yang dilakukan Utsman setelah hari ini tidak akan membahayakannya (dosanya diampuni)." (HR. At-Tirmidzi no. 3701).

Dalam konteks masyarakat perkotaan saat ini, kita seringkali merasa "sayang" untuk mengeluarkan harta dalam jumlah besar untuk kepentingan dakwah atau kemanusiaan. Kita sering terjebak dalam hitung-hitungan matematis manusia yang takut akan kemiskinan. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

مَّثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261).

Contoh aplikatif bagi kita adalah ketika ada proyek pembangunan rumah sakit gratis, sekolah untuk anak yatim, atau bantuan untuk saudara kita di Palestina dan daerah konflik lainnya. Janganlah kita hanya memberi dari sisa-sisa harta kita. Utsman mengajarkan kita untuk memberikan yang terbaik, yang paling kita cintai. Hikmah dari poin ini adalah bahwa pengorbanan harta di jalan Allah adalah bentuk perniagaan yang tidak akan pernah merugi. Ia adalah investasi yang akan menyelamatkan kita dari huru-hara hari kiamat.

Poin ketiga: Investasi Masa Depan melalui Pembangunan Fasilitas Ibadah

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Kedermawanan Utsman bin Affan juga menyentuh aspek kenyamanan ibadah umat. Ketika jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah pesat, Masjid Nabawi tidak lagi mampu menampung jamaah yang hadir. Rasulullah SAW kemudian menawarkan kepada para sahabat: "Siapa yang mau membeli tanah milik keluarga fulan untuk memperluas masjid ini, maka baginya tempat yang lebih baik di surga."

Lagi-lagi, Utsman bin Affan adalah orang pertama yang menyambut seruan tersebut. Beliau membeli tanah di sekitar Masjid Nabawi dengan harga 25.000 dirham dan mewakafkannya untuk perluasan masjid. Beliau memahami bahwa masjid bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat peradaban, tempat di mana iman ditempa dan ukhuwah dijalin. Tanpa perluasan tersebut, kenyamanan ibadah umat akan terganggu.

Bagi kita yang hidup di perkotaan, tantangan kita mungkin bukan lagi membangun masjid dari nol, melainkan bagaimana memakmurkan dan merawat fasilitas ibadah agar tetap relevan bagi generasi muda. Membantu renovasi masjid agar ramah lingkungan, menyediakan fasilitas teknologi untuk dakwah digital, atau mendukung operasional pesantren perkotaan adalah bentuk aplikasi dari semangat Utsman bin Affan.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 18:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah: 18).

Hikmah yang dapat kita petik adalah bahwa harta yang kita gunakan untuk membangun fasilitas agama akan terus mengalirkan pahala selama fasilitas tersebut digunakan. Ini adalah "passive income" yang sesungguhnya di akhirat nanti. Utsman tidak hanya membangun untuk zamannya, tapi beliau membangun untuk masa depan Islam.

Poin keempat: Literasi Keuangan dan Warisan Abadi (Waqf yang Berkelanjutan)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hal yang paling menakjubkan dari kedermawanan Utsman bin Affan adalah keberlanjutannya. Tahukah Anda bahwa hingga hari ini, lebih dari 1.400 tahun setelah wafatnya beliau, rekening bank atas nama Utsman bin Affan masih ada di Arab Saudi? Wakaf Sumur Ruma yang beliau beli dahulu, terus berkembang. Di sekitar sumur itu tumbuh ribuan pohon kurma yang hasilnya dikelola secara profesional. Keuntungannya digunakan untuk menyantuni anak yatim, fakir miskin, dan sebagian lagi diinvestasikan dalam bentuk properti dan hotel di dekat Masjid Nabawi.

Utsman bin Affan mengajarkan kita tentang pentingnya literasi keuangan dalam beramal. Beliau tidak hanya memberi ikan, tapi beliau memberikan kail dan kolamnya. Beliau mengajarkan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah yang manfaatnya terus berputar dan berkembang (sustainable).

Rasulullah SAW bersabda: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 1631). Wakaf Utsman adalah contoh nyata dari sedekah jariyah yang sempurna.

Dalam kehidupan kita saat ini, kita bisa meniru pola ini dengan mulai melirik instrumen wakaf produktif. Alih-alih hanya sedekah konsumtif yang habis sekali pakai, mulailah berpikir untuk berwakaf dalam bentuk saham syariah, wakaf tunai untuk modal usaha UMKM, atau wakaf untuk pembangunan rumah sakit. Bagi masyarakat perkotaan yang aktif bermedia sosial, kita bisa menggunakan platform digital untuk menggalang wakaf produktif ini.

Hikmahnya adalah kedermawanan yang cerdas akan membuat nama kita tetap hidup dan pahala kita tetap mengalir meskipun jasad kita sudah hancur di dalam tanah. Utsman bin Affan membuktikan bahwa seorang mukmin yang kaya dan dermawan bisa menjadi "tangan kanan" Allah dalam menebar rahmat bagi semesta alam. Beliau menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah musuh ketakwaan, melainkan pelayan bagi ketakwaan jika dikelola dengan benar.

3. Penutup

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita merenung sejenak. Utsman bin Affan adalah sosok yang sangat pemalu, namun dalam urusan kedermawanan, beliau adalah sosok yang paling berani dan terdepan. Beliau tidak pernah merasa rugi karena memberi, sebab beliau yakin dengan janji Allah. Beliau menggunakan hartanya untuk membeli surga, bukan untuk memuaskan syahwat duniawi.

Di era di mana pamer kekayaan (flexing) menjadi tren di media sosial, mari kita hadirkan tren baru: tren kedermawanan yang tulus dan berdampak. Mari kita jadikan harta yang ada di tangan kita sebagai jembatan menuju surga, sebagaimana Utsman bin Affan telah melakukannya. Jangan tunggu kaya untuk memberi, tapi memberilah agar Allah mencukupkan dan memberkahi hidup kita.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang lembut seperti Utsman, jiwa yang dermawan seperti Utsman, dan keberkahan harta sebagaimana yang Allah berikan kepada Utsman. Semoga kita dikumpulkan bersama beliau dan baginda Rasulullah SAW di dalam surga-Nya kelak.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلائِقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa sebaik-baik bekal untuk menghadap Allah kelak adalah ketakwaan yang terwujud dalam amal saleh yang tulus dan bermanfaat bagi sesama.

2. Isi Singkat

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Melalui khotbah kedua ini, mari kita teguhkan kembali komitmen kita untuk meneladani kedermawanan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau telah mengajarkan kepada kita bahwa harta bukanlah tujuan, melainkan sarana yang sangat efektif untuk meraih rida Allah dan membangun kemaslahatan umat. Kedermawanan beliau yang visioner—seperti wakaf sumur Raumah yang manfaatnya masih mengalir hingga hari ini—menjadi bukti nyata bahwa investasi akhirat jauh lebih kekal daripada kemewahan duniawi yang fana.

Di tengah dinamika kehidupan modern saat ini, kita dituntut untuk memiliki kecerdasan dalam mengelola harta. Jadikanlah harta yang kita miliki sebagai solusi atas berbagai persoalan sosial, pendidikan, dan ekonomi umat. Janganlah kita menjadi hamba yang kikir, karena sesungguhnya apa yang kita sedekahkan itulah yang benar-benar menjadi milik kita di akhirat kelak.

Selanjutnya, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

3. Doa Penutup

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Karuniakanlah kepada kami hati yang dermawan seperti Utsman bin Affan, yang mencintai sedekah dan peduli terhadap nasib sesama. Jadikanlah harta yang Engkau titipkan kepada kami sebagai wasilah untuk menggapai surga-Mu, bukan sebagai beban yang menjauhkan kami dari-Mu.

Ya Allah, berikanlah keberkahan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, makmur, dan penuh ampunan-Mu. Bimbinglah para pemimpin kami agar senantiasa berlaku adil dan mencintai rakyatnya. Angkatlah segala wabah, musibah, dan kesulitan dari tengah-tengah kami.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيمُوا الصَّلَاةَ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.