Khotbah Jumat · Kisah & Sejarah Sahabat Nabi · 30 September 2026

Pelajaran Berharga dari Perjuangan Kaum Muhajirin dan Anshar

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

الحَمْدُ للهِ، الحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ البَرَكَاتُ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعْمَةِ الإِيْمَانِ وَالإِسْلَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ هِدَايَةٍ وَتَوْفِيْقٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَا جَاهَدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Jalla Jalaluhu, yang hingga detik ini masih mengizinkan jantung kita berdetak, paru-paru kita menghirup udara, dan kaki kita melangkah menuju rumah-Nya yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa cahaya Islam dari kegelapan jahiliyah menuju terangnya iman.

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib ingin mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk merenungi kembali lembaran sejarah emas peradaban Islam. Sebuah kisah tentang dua kelompok manusia luar biasa yang namanya diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an hingga akhir zaman. Mereka adalah kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Perjuangan mereka bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan kompas bagi kita yang hidup di tengah hiruk-pikuk dunia modern, di tengah gemerlapnya kota besar, dan di tengah derasnya arus informasi media sosial.

2. Isi Materi

Pengorbanan Total Kaum Muhajirin: Melepaskan Keterikatan Duniawi

Poin pertama yang harus kita teladani adalah semangat pengorbanan total kaum Muhajirin. Mereka adalah orang-orang yang rela meninggalkan tanah kelahiran, rumah yang nyaman, harta benda yang melimpah, bahkan keluarga tercinta demi mempertahankan akidah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 8:

لِلْفُقَرَاۤءِ الْمُهٰجِرِيْنَ الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا وَّيَنْصُرُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَۚ

Artinya: (Harta rampasan itu juga) bagi orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) serta menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Ayat ini menegaskan bahwa kaum Muhajirin tidak berhijrah karena motif ekonomi atau mencari popularitas. Mereka "terusir" karena keteguhan iman. Bayangkan, Ma’asyiral Muslimin, jika kita berada di posisi mereka. Di zaman sekarang, kita seringkali merasa berat hanya untuk melepaskan waktu tidur demi shalat Subuh, atau merasa berat menyisihkan sedikit harta untuk zakat. Namun, kaum Muhajirin memberikan segalanya. Mereka meninggalkan zona nyaman di Mekkah menuju ketidakpastian di Madinah hanya dengan membawa keyakinan di dada.

Contoh aplikatif bagi kita masyarakat perkotaan adalah bagaimana kita berani melakukan "hijrah" dari kebiasaan buruk. Di era media sosial ini, seringkali kita terjebak dalam gaya hidup konsumtif, pamer kemewahan (flexing), atau mencari validasi manusia di atas ridha Allah. Pengorbanan Muhajirin mengajarkan kita untuk berani melepaskan ego, melepaskan keterikatan pada status sosial yang semu, dan berani meninggalkan pekerjaan yang haram meskipun menjanjikan materi yang besar. Hikmah dari poin ini adalah bahwa kebenaran iman menuntut pembuktian berupa pengorbanan. Tanpa pengorbanan, iman hanyalah sebuah klaim di lisan. Ketika kita berani melepaskan sesuatu karena Allah, maka Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik, sebagaimana Allah mengganti kemiskinan Muhajirin dengan kejayaan Islam di Madinah.

Kedermawanan Tanpa Batas Kaum Anshar: Menghidupkan Sifat Itsar

Poin kedua adalah kemuliaan hati kaum Anshar. Jika Muhajirin adalah mereka yang berkorban dengan meninggalkan, maka Anshar adalah mereka yang berkorban dengan memberi. Mereka menyambut saudara-saudara mereka yang datang tanpa membawa apa-apa dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Allah SWT memuji mereka dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Artinya: Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam ayat ini, Allah menggunakan istilah Itsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, padahal mereka sendiri sedang membutuhkan. Ini adalah puncak dari kedermawanan. Kaum Anshar tidak hanya berbagi makanan, tapi mereka menawarkan rumah, kebun, bahkan modal usaha bagi kaum Muhajirin. Mereka tidak merasa tersaingi, tidak merasa terancam secara ekonomi, dan tidak merasa keberatan dengan kehadiran "pendatang baru".

Dalam konteks kehidupan perkotaan yang cenderung individualis, sifat Anshar ini sangat kita butuhkan. Di media sosial, kita sering melihat orang berlomba-lomba menunjukkan apa yang mereka miliki, namun jarang yang menunjukkan apa yang telah mereka berikan secara tulus tanpa kamera. Contoh aplikatifnya adalah dengan menjadi "Anshar" bagi tetangga kita yang kesulitan, bagi rekan kerja yang sedang tertimpa musibah, atau bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan tanpa harus menunggu viral terlebih dahulu. Hikmahnya adalah bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak yang kita bagikan. Sifat kikir adalah penghalang keberuntungan, sedangkan sifat dermawan adalah pembuka pintu rahmat Allah.

Ukhuwah Islamiyah: Membangun Kekuatan di Atas Persaudaraan

Poin ketiga adalah bagaimana Rasulullah SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar sebagai fondasi kekuatan umat. Persaudaraan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan ikatan yang lebih kuat daripada ikatan darah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya: "Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW secara jenius memasangkan satu orang Muhajirin dengan satu orang Anshar. Misalnya, Abdurrahman bin Auf dari Muhajirin dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Ar-Rabi' dari Anshar. Sa'ad menawarkan setengah hartanya kepada Abdurrahman, namun Abdurrahman dengan harga diri yang tinggi hanya meminta ditunjukkan jalan menuju pasar. Inilah kolaborasi yang luar biasa: yang satu siap memberi, yang satu tidak mau membebani dan memilih untuk mandiri.

Bagi kita yang hidup di kota besar, seringkali kita tidak mengenal siapa tetangga di sebelah rumah atau apartemen kita. Kita lebih asyik dengan "teman" di dunia maya daripada saudara seiman di dunia nyata. Contoh aplikatif dari poin ini adalah membangun komunitas yang solid. Gunakan grup WhatsApp atau media sosial bukan untuk menyebar hoaks atau berdebat kusir, melainkan untuk mengoordinasikan kegiatan sosial, saling membantu dalam kesulitan ekonomi, atau saling mengingatkan dalam kebaikan. Hikmah dari ukhuwah ini adalah bahwa umat Islam tidak akan pernah bisa dihancurkan selama mereka bersatu. Persatuan antara Muhajirin dan Anshar adalah kunci kemenangan Islam di masa lalu, dan persatuan kita hari ini adalah kunci kejayaan Islam di masa depan. Kita harus berhenti mencari perbedaan dan mulai fokus pada persamaan akidah.

Keteguhan Hati dan Ridha Allah sebagai Tujuan Akhir

Poin keempat adalah tentang orientasi perjuangan mereka yang hanya tertuju pada ridha Allah SWT. Perjuangan Muhajirin dan Anshar bukanlah perjuangan yang singkat. Mereka menghadapi peperangan, boikot, kemiskinan, dan berbagai ujian berat selama bertahun-tahun. Namun, mereka tetap istiqomah karena mereka tahu apa tujuan akhirnya. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tawbah ayat 100:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.

Ayat ini adalah "sertifikat" kelulusan bagi mereka. Allah menyatakan ridha-Nya kepada mereka. Mengapa? Karena mereka ridha terhadap segala ketentuan Allah, baik saat lapang maupun sempit. Mereka tidak mengeluh saat diuji, dan tidak sombong saat diberi kemenangan.

Dalam kehidupan kita yang serba cepat ini, kita seringkali kehilangan kesabaran. Kita ingin sukses secara instan, ingin kaya secara instan, bahkan ingin masuk surga tanpa ujian. Contoh aplikatifnya adalah dalam menjaga konsistensi ibadah dan akhlak di tengah lingkungan yang mungkin tidak mendukung. Ketika kita dihujat karena menjalankan sunnah, atau ketika kita merasa lelah dengan beban hidup di perkotaan, ingatlah perjuangan Muhajirin dan Anshar. Mereka tidak mencari pujian manusia (like atau comment positif di media sosial), melainkan mencari ridha Allah. Hikmahnya adalah bahwa kemenangan sejati bukanlah saat kita berhasil mengalahkan orang lain, melainkan saat kita berhasil menaklukkan nafsu diri sendiri dan mendapatkan ridha Allah. Jika Allah sudah ridha, maka seluruh dunia tidak akan mampu mencelakakan kita.

3. Penutup

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kisah Muhajirin dan Anshar bukan sekadar catatan sejarah yang usang. Ia adalah cermin bagi kita semua. Muhajirin mengajarkan kita tentang keberanian untuk berubah dan berkorban demi prinsip. Anshar mengajarkan kita tentang ketulusan dalam berbagi dan mencintai saudara tanpa syarat. Persatuan mereka mengajarkan kita tentang kekuatan kolektif, dan keteguhan mereka mengajarkan kita tentang tujuan hidup yang sesungguhnya.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing: Sudahkah kita memiliki semangat Muhajirin untuk meninggalkan kemaksiatan? Sudahkah kita memiliki jiwa Anshar untuk peduli pada sesama? Ataukah kita masih sibuk dengan diri kita sendiri, terbelenggu oleh layar gawai, dan lupa bahwa ada saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan?

Semoga Allah SWT menghimpun kita bersama kaum Muhajirin dan Anshar di dalam surga-Nya kelak. Semoga Allah melembutkan hati kita untuk saling mencintai karena-Nya, dan menguatkan langkah kita untuk terus berjuang di jalan-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

2. Isi Singkat

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mengakhiri rangkaian ibadah Jumat kita hari ini, marilah kita memantapkan tekad untuk meneladani kemuliaan akhlak kaum Muhajirin dan Anshar. Perjuangan mereka bukanlah sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan kompas moral bagi kita yang hidup di era modern. Jika kaum Muhajirin mengajarkan kita tentang keteguhan iman dan keberanian meninggalkan zona nyaman demi kebenaran, maka kaum Anshar mengajarkan kita tentang ketulusan dalam berbagi dan sifat itsar—yakni mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Di tengah kepungan arus individualisme dan sikap apatis yang sering kali melanda masyarakat perkotaan, semangat ukhuwah ini menjadi sangat relevan. Mari kita runtuhkan sekat-sekat egoisme. Jadikanlah tetangga kita, rekan kerja kita, dan sesama muslim sebagai saudara yang patut dibantu dan dijaga kehormatannya. Sebagaimana Allah SWT memuji kaum Anshar dalam Al-Qur'an Surat Al-Hasyr ayat 9, bahwa mereka mengutamakan orang lain meskipun mereka sendiri berada dalam kesusahan.

Marilah kita perkuat ikatan kasih sayang ini, karena hanya dengan ukhuwah yang kokoh, umat Islam akan menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat. Sebelum kita menutup khotbah ini dengan doa, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk cinta dan pengharapan kita akan syafaat beliau di hari kiamat kelak.

3. Doa Penutup

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Tanamkanlah di dalam hati kami rasa kasih sayang sebagaimana Engkau tanamkan kasih sayang di antara kaum Muhajirin dan Anshar. Jauhkanlah kami dari sifat kikir, sombong, dan mementingkan diri sendiri.

Ya Allah, berikanlah kedamaian, kemakmuran, dan keberkahan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, yang penduduknya saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Pilihlah bagi kami pemimpin-pemimpin yang mencintai rakyatnya dan takut kepada-Mu.

Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah fitnah zaman yang memecah belah. Berikanlah kami keselamatan di dunia dan kemuliaan di akhirat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. اَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.