Mendidik Anak dengan Keteladanan
KHOTBAH PERTAMA
1. Pembukaan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam yang tak henti-hentinya mengalirkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan yang memungkinkan kita melangkahkan kaki menuju rumah-Nya yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Sebab, hanya bekal takwa inilah yang akan menyelamatkan kita dalam mengarungi fitnah dunia yang semakin kompleks, terutama dalam mengemban amanah besar sebagai orang tua di era modern ini.
Hari ini, kita hidup di tengah hiruk-pikuk perkotaan yang serba cepat. Kita disibukkan dengan pekerjaan, terjebak dalam kemacetan, dan seringkali perhatian kita tersedot oleh layar gawai di tangan. Di tengah semua itu, ada mata-mata kecil yang senantiasa mengawasi kita. Ada jiwa-jiwa suci yang sedang merekam setiap gerak-gerik kita. Mereka adalah anak-anak kita, investasi akhirat kita yang paling berharga. Maka, tema khotbah kita pada siang hari ini adalah "Mendidik Anak dengan Keteladanan," sebuah prinsip pendidikan yang paling tua namun paling efektif sepanjang sejarah manusia.
2. Isi Materi
Poin pertama: Anak adalah Amanah dan Cermin Orang Tua
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Poin pertama yang harus kita sadari sepenuhnya adalah bahwa anak bukan sekadar pelengkap kebahagiaan keluarga, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW telah memberikan fondasi dasar mengenai hakikat kelahiran seorang anak. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa setiap anak lahir dengan potensi kebaikan yang luar biasa. Mereka ibarat kertas putih yang bersih atau tanah subur yang siap ditanami. Pertanyaannya, tinta apa yang kita goreskan di atas kertas itu? Benih apa yang kita tanam di tanah tersebut? Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial. Di lingkungan perkotaan yang individualis dan penuh dengan arus informasi yang tak terbendung, orang tua seringkali merasa cukup dengan menyekolahkan anak di sekolah terbaik atau memberikan fasilitas materi yang mewah. Namun, hadits di atas mengingatkan bahwa pembentuk utama karakter dan keyakinan anak adalah orang tuanya sendiri, bukan guru sekolah, bukan pengasuh, dan bukan pula algoritma media sosial.
Contoh aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari adalah bagaimana kita memperlakukan anak sebagai subjek pendidikan, bukan objek. Ketika kita ingin anak kita memiliki lisan yang jujur, maka jangan pernah sekalipun mereka mendengar kita berbohong, meskipun itu dianggap "bohong kecil" seperti meminta anak mengatakan kita tidak ada di rumah saat ada tamu yang tidak diinginkan. Anak adalah peniru yang ulung. Mereka mungkin tidak selalu mendengar nasihat kita, tapi mereka tidak pernah gagal meniru perbuatan kita. Jika kita ingin mereka mencintai Al-Qur'an, biarkan mereka sering melihat kita mendekap dan membaca Al-Qur'an, bukan hanya melihat kita asyik dengan ponsel.
Hikmah dari poin ini adalah kesadaran bahwa mendidik anak sebenarnya adalah proses mendidik diri sendiri. Kita tidak bisa menuntut anak menjadi shalih jika kita sendiri enggan memperbaiki diri. Anak adalah cermin yang memantulkan bayangan kita. Jika bayangan di cermin itu tampak miring, jangan salahkan cerminnya, tapi perbaikilah posisi berdiri kita di depan cermin tersebut. Dengan menyadari amanah ini, kita akan lebih berhati-hati dalam bersikap karena setiap langkah kita adalah kurikulum bagi mereka.
Poin kedua: Bahaya Kontradiksi Antara Ucapan dan Perbuatan
Hadirin rahimakumullah,
Poin kedua yang sangat mendesak untuk kita renungkan adalah bahaya dari sikap inkonsistensi atau kontradiksi antara apa yang kita perintahkan kepada anak dengan apa yang kita lakukan. Allah SWT memberikan peringatan keras dalam Al-Qur'an Surah As-Saff ayat 2-3:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 2-3).
Ayat ini adalah teguran tajam bagi setiap pendidik, terutama orang tua. Dalam konteks masyarakat perkotaan yang aktif bermedia sosial, seringkali kita terjebak dalam pencitraan. Kita membagikan kutipan-kutipan bijak tentang kesabaran di status WhatsApp atau Instagram, namun di rumah kita justru sering membentak anak karena masalah sepele. Kita menyuruh anak untuk segera shalat saat adzan berkumandang, namun kita sendiri masih asyik menonton televisi atau membalas pesan di grup kantor hingga waktu shalat hampir habis.
Keteladanan adalah bahasa tindakan yang jauh lebih kuat daripada ribuan kata-kata. Ketika terjadi kesenjangan antara ucapan dan perbuatan, anak akan mengalami krisis kepercayaan. Mereka akan menganggap bahwa nilai-nilai agama hanyalah teori yang tidak perlu dipraktikkan, karena orang tua mereka pun tidak mempraktikkannya. Inilah yang sering menyebabkan anak-anak remaja kita menjadi apatis terhadap agama. Mereka melihat agama hanya sebagai rangkaian larangan dan perintah yang membosankan, bukan sebagai jalan hidup yang menenangkan.
Contoh nyata yang sering terjadi adalah masalah penggunaan gawai (gadget). Banyak orang tua mengeluh anaknya kecanduan game online atau media sosial, lalu mereka memarahi anak tersebut habis-habisan. Namun, di saat yang sama, sang ayah dan ibu tidak bisa lepas dari ponselnya bahkan saat di meja makan. Jika kita ingin anak membatasi waktu layarnya, maka kita harus menjadi yang pertama meletakkan ponsel saat masuk ke rumah. Tunjukkan bahwa interaksi dengan manusia, terutama keluarga, jauh lebih berharga daripada interaksi dengan dunia maya.
Hikmah dari konsistensi ini adalah terbangunnya wibawa orang tua yang tulus. Wibawa tidak lahir dari bentakan atau ancaman, melainkan dari keselarasan antara kata dan laku. Saat anak melihat orang tuanya berjuang untuk taat kepada Allah, mereka akan merasa segan dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Keteladanan adalah metode pendidikan yang paling hemat energi, karena kita tidak perlu banyak berteriak; cukup dengan menunjukkan jalan melalui perbuatan kita sendiri.
Poin ketiga: Meneladani Rasulullah SAW dalam Kelembutan dan Integritas
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Poin ketiga adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai standar tertinggi dalam memberikan keteladanan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).
Rasulullah SAW bukan hanya seorang pemimpin negara atau panglima perang, beliau adalah pendidik terbaik bagi anak-anak. Beliau tidak pernah memukul anak kecil, tidak pernah menghardik dengan kata-kata kasar, dan senantiasa memberikan contoh integritas. Di tengah masyarakat perkotaan yang penuh dengan tekanan stres dan tuntutan hidup, seringkali kita kehilangan kesabaran dalam mendidik. Kita ingin hasil yang instan, ingin anak langsung pintar, langsung shalih, tanpa mau melewati proses pendampingan yang penuh kasih sayang sebagaimana dicontohkan Nabi.
Integritas Rasulullah terlihat dari bagaimana beliau memperlakukan cucu-cucunya, Hasan dan Husain. Beliau pernah memperlama sujudnya saat shalat karena salah satu cucunya naik ke punggung beliau. Beliau tidak marah, tidak pula menganggap itu sebagai gangguan, melainkan memberikan ruang bagi anak untuk merasa dicintai bahkan dalam ibadah yang paling sakral sekalipun. Keteladanan dalam hal kasih sayang ini sangat dibutuhkan anak-anak kita saat ini, yang mungkin merasa kesepian di tengah keramaian kota.
Aplikasi praktisnya adalah dengan membangun integritas digital dan sosial. Di era media sosial, integritas berarti kita tidak menunjukkan kepribadian yang berbeda di dunia maya dan dunia nyata. Jangan sampai anak melihat kita sangat sopan di komentar media sosial, namun sangat kasar kepada asisten rumah tangga atau kurir yang mengantar paket ke rumah. Tunjukkan kepada anak bagaimana cara berkomunikasi yang santun, bagaimana cara menghargai orang lain tanpa memandang status sosialnya. Jika kita ingin anak memiliki empati, ajaklah mereka sesekali mengunjungi panti asuhan atau berbagi makanan dengan mereka yang membutuhkan di pinggir jalan, bukan sekadar menyuruh mereka berdonasi lewat aplikasi.
Hikmah dari meneladani Rasulullah adalah kita akan mendidik dengan hati. Pendidikan yang berasal dari hati akan sampai ke hati. Dengan mengikuti pola Nabi, kita tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mentransfer nilai dan rasa. Anak yang dididik dengan keteladanan yang penuh kelembutan akan tumbuh menjadi pribadi yang stabil secara emosional dan kokoh secara spiritual. Mereka akan memiliki kompas moral yang kuat karena mereka telah melihat "Islam yang hidup" dalam diri orang tua mereka.
Poin keempat: Mewariskan Nilai Tauhid Melalui Kebiasaan Sehari-hari
Hadirin yang berbahagia,
Poin terakhir dalam khotbah ini adalah pentingnya menanamkan nilai tauhid dan adab melalui keteladanan dalam rutinitas harian. Kita bisa belajar dari Luqman al-Hakim yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an. Luqman mendidik anaknya dengan dialog yang penuh cinta, namun yang paling utama adalah dia sendiri mempraktikkan apa yang dia ajarkan. Pendidikan karakter yang paling kuat adalah yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari, bukan yang hanya disampaikan dalam sesi ceramah keluarga yang kaku.
Di kehidupan kota yang serba materialistis, tantangan terbesar adalah menjaga agar hati anak tetap terpaut kepada Allah. Seringkali secara tidak sadar kita memberikan teladan bahwa uang adalah segalanya. Kita mengeluh tentang ekonomi di depan anak, kita menunjukkan kecemasan yang berlebihan saat menghadapi masalah pekerjaan, seolah-olah Allah tidak ada. Keteladanan tauhid berarti menunjukkan kepada anak bahwa dalam setiap kesulitan, Allah adalah tempat kembali yang utama.
Contoh aplikatifnya adalah dengan melibatkan Allah dalam setiap narasi keluarga. Saat kita mendapatkan bonus dari kantor, katakan di depan anak, "Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki melalui ayah, mari kita syukuri dengan berbagi." Saat kita menghadapi musibah atau kegagalan, tunjukkan sikap sabar dan ajak anak untuk shalat berjamaah serta berdoa bersama. Ini adalah keteladanan nyata tentang bagaimana seorang mukmin bersikap. Selain itu, dalam hal adab, mulailah dari hal kecil seperti membiasakan mengucap salam saat masuk rumah, mencium tangan, dan berbicara dengan nada rendah. Jika orang tua terbiasa saling menghargai satu sama lain (suami menghargai istri dan sebaliknya), maka anak akan belajar tentang penghormatan tanpa perlu diajarkan secara teori.
Pendidikan adab di era digital juga termasuk bagaimana kita memberikan teladan dalam menyaring informasi. Tunjukkan pada anak bahwa kita tidak mudah menyebarkan berita bohong (hoaks) dan tidak suka membicarakan keburukan orang lain (ghibah) baik secara lisan maupun melalui ketikan di media sosial. Keteladanan dalam menjaga lisan dan jari adalah bentuk nyata dari pengamalan nilai-nilai Islam di zaman modern.
Hikmah dari poin keempat ini adalah terbentuknya generasi yang memiliki akar yang kuat. Pohon yang tinggi hanya akan tahan terhadap badai jika akarnya menghujam dalam ke bumi. Demikian pula anak-anak kita. Jika mereka memiliki akar tauhid dan adab yang kuat melalui keteladanan orang tuanya, mereka tidak akan mudah goyah oleh pengaruh lingkungan yang negatif. Mereka akan menjadi generasi Qur'ani yang mampu mewarnai lingkungannya, bukan malah diwarnai oleh keburukan zaman. Warisan terbaik yang bisa kita berikan bukanlah harta benda atau properti di tengah kota, melainkan karakter mulia yang terpahat melalui keteladanan yang kita berikan setiap hari.
3. Penutup
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita menyadari bahwa waktu terus berjalan dan anak-anak kita tumbuh dengan sangat cepat. Kesempatan kita untuk memberikan keteladanan tidaklah selamanya. Suatu saat nanti, kita akan meninggalkan mereka, dan yang tersisa hanyalah memori tentang bagaimana kita hidup dan bagaimana kita beribadah. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena terlalu sibuk membangun dunia hingga lupa membangun jiwa anak-anak kita melalui teladan yang baik.
Mendidik dengan keteladanan memang berat, karena ia menuntut kita untuk menjadi orang baik terlebih dahulu. Namun, inilah jalan yang paling berkah. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang paling kecil, dan mulai dari sekarang. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita, memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi orang tua yang mampu memberikan uswah hasanah bagi putra-putri kita, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, yang akan menjadi penyejuk mata (qurrata a’yun) bagi kita di dunia dan penolong kita di akhirat kelak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
1. Pembukaan
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Swt. yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad saw. Di mimbar yang mulia ini, khatib kembali berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
2. Isi Singkat
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Melalui khotbah kedua ini, mari kita perteguh kembali komitmen kita dalam mendidik generasi penerus. Sebagaimana telah disampaikan pada khotbah pertama, bahwa anak adalah amanah sekaligus cerminan dari orang tuanya. Keteladanan atau uswah bukan sekadar metode pendidikan, melainkan fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Anak-anak kita mungkin tidak selalu mendengar apa yang kita katakan, namun mereka tidak pernah gagal dalam meniru apa yang kita lakukan.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan diri kita sebagai madrasah pertama yang penuh dengan kejujuran, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah Swt. Sebelum kita memerintahkan anak untuk bersikap jujur, pastikan lisan kita telah terjaga dari dusta. Sebelum kita mengajak mereka ke masjid, pastikan langkah kaki kita telah lebih dahulu akrab dengan rumah Allah. Keselarasan antara ucapan dan perbuatan adalah kunci keberhasilan dalam mencetak generasi Qur'ani yang tangguh di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
Sebagai penutup dari rangkaian ibadah ini, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 56:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).
3. Doa Penutup
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan bimbinglah kami agar mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kami. Jadikanlah keturunan kami anak-anak yang saleh dan salehah, yang menyejukkan pandangan mata, dan taat kepada-Mu.
Ya Allah, berikanlah kedamaian, kemakmuran, dan keselamatan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Lindungilah negeri ini dari segala marabahaya, perpecahan, dan fitnah. Jadikanlah pemimpin-pemimpin kami orang-orang yang amanah dan mencintai rakyatnya.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا.
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.
Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.