Khotbah Jumat · Al-Qur'an & Keutamaan Tilawah · 08 October 2026

Al-Qur'an sebagai Petunjuk Hidup

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, Sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam yang tak henti-hentinya mengalirkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan yang memungkinkan kita melangkahkan kaki menuju rumah Allah yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Sebab, hanya bekal takwalah yang akan menyelamatkan kita dalam mengarungi samudera kehidupan dunia yang penuh fitnah ini, hingga kelak kita menghadap Sang Khalik di hari pembalasan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Di era modern yang serba cepat ini, kita hidup di tengah kepungan informasi. Setiap hari, jemari kita tak lepas dari layar gawai, mata kita terus menatap linimasa media sosial, dan telinga kita terpapar berbagai narasi yang seringkali membingungkan. Di tengah hiruk-pikuk dunia perkotaan yang penuh tekanan, persaingan, dan kebisingan digital, seringkali kita merasa kehilangan arah. Kita merasa lelah secara mental, hampa secara spiritual, dan bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam kondisi seperti inilah, kita perlu kembali merenung: ke mana kita mencari pegangan? Allah SWT telah menurunkan sebuah anugerah terbesar bagi umat manusia, yakni Al-Qur'anul Karim. Ia bukan sekadar kitab suci yang dibaca saat acara seremonial atau diletakkan di rak paling atas hingga berdebu. Al-Qur'an adalah Hudan, petunjuk hidup yang nyata, yang mampu menjawab kegelisahan manusia modern jika kita mau mendekatinya dengan hati yang terbuka.

2. Isi Materi

Al-Qur'an sebagai Filter di Tengah Arus Informasi Digital

Poin pertama yang perlu kita sadari adalah fungsi Al-Qur'an sebagai Al-Furqan, yakni pembeda antara yang hak dan yang batil. Di zaman sekarang, kita dibombardir oleh ribuan informasi setiap detiknya melalui media sosial. Hoaks, fitnah, ghibah digital, hingga narasi yang memecah belah umat menjadi konsumsi sehari-hari. Tanpa pegangan yang kuat, kita akan mudah terombang-ambing, mudah marah karena berita palsu, dan mudah menghakimi orang lain hanya berdasarkan potongan video yang tidak utuh.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Artinya: "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2).

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya sumber kebenaran yang mutlak, yang tidak mengandung keraguan sedikit pun. Penjelasan dari ayat ini adalah bahwa ketika dunia menawarkan ketidakpastian, Al-Qur'an menawarkan kepastian. Ketika media sosial dipenuhi dengan opini manusia yang seringkali bias dan subjektif, Al-Qur'an memberikan standar kebenaran yang objektif dan abadi. Al-Qur'an mengajarkan kita prinsip tabayyun (klarifikasi), mengajarkan kita untuk tidak mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya, dan mengajarkan kita untuk menjaga lisan serta jemari kita dari menyebarkan keburukan.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan masyarakat perkotaan adalah: sebelum kita menekan tombol "share" atau membagikan sebuah berita yang provokatif di grup WhatsApp atau media sosial, kembalilah kepada prinsip Al-Qur'an. Tanyakan pada diri sendiri, apakah informasi ini benar? Apakah informasi ini membawa manfaat atau justru menimbulkan kegaduhan? Jika kita menjadikan Al-Qur'an sebagai filter, maka kita tidak akan menjadi bagian dari penyebar fitnah. Kita akan menjadi pribadi yang tenang, yang tidak mudah terprovokasi oleh tren yang menyesatkan.

Hikmah dari menjadikan Al-Qur'an sebagai filter informasi adalah terjaganya kedamaian sosial dan kejernihan pikiran. Seseorang yang memiliki filter Al-Qur'an dalam dirinya akan memiliki "imunitas" mental. Ia tidak akan mudah stres karena berita-berita duniawi yang berlebihan, karena ia tahu bahwa standar kebahagiaan dan kebenaran bukan terletak pada apa yang viral, melainkan pada apa yang diridhai oleh Allah SWT. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih terarah dan tidak habis hanya untuk mengurusi hal-hal yang sia-sia di dunia maya.

Al-Qur'an sebagai Penawar Hati dan Solusi Kesehatan Mental

Poin kedua, Al-Qur'an berfungsi sebagai Asy-Syifa atau obat penawar bagi jiwa yang gelisah. Masyarakat perkotaan saat ini sangat rentan terhadap masalah kesehatan mental. Tekanan pekerjaan yang tinggi, kemacetan yang menguras emosi, biaya hidup yang meningkat, hingga fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal dari tren orang lain, seringkali membuat hati merasa sesak dan hampa. Banyak orang mencari pelarian ke tempat-tempat hiburan, belanja berlebihan, atau tenggelam dalam dunia maya, namun ketenangan yang didapat hanya bersifat semu dan sementara.

Allah SWT memberikan solusi yang pasti dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: " (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Penjelasan dari ayat ini sangat mendalam. Allah menegaskan bahwa struktur batin manusia diciptakan dengan "ruang kosong" yang hanya bisa diisi oleh penciptanya. Seberapa banyak pun harta yang kita kumpulkan, seberapa tinggi pun jabatan yang kita raih, hati tidak akan pernah mencapai titik ketenangan yang hakiki kecuali jika ia terhubung dengan Allah melalui dzikir dan membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah bentuk dzikir yang paling utama. Getaran ayat-ayatnya bukan hanya menyentuh pendengaran, tapi meresap ke dalam sel-sel jiwa, menenangkan saraf yang tegang, dan memberikan perspektif baru bahwa segala masalah dunia ini kecil di hadapan keagungan Allah.

Contoh aplikatifnya adalah dengan menyediakan waktu khusus, bukan waktu sisa, untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an setiap hari. Di tengah kesibukan kantor atau saat terjebak kemacetan, daripada kita mengeluh atau terus-menerus melihat layar gawai yang menambah beban pikiran, cobalah mendengarkan murattal Al-Qur'an atau membaca satu-dua ayat beserta maknanya. Jadikan Al-Qur'an sebagai teman curhat. Saat kita merasa dizalimi, bacalah ayat tentang kesabaran. Saat kita merasa kekurangan, bacalah ayat tentang luasnya rezeki Allah. Saat kita merasa berdosa, bacalah ayat tentang luasnya ampunan-Nya.

Hikmah yang akan kita rasakan adalah munculnya ketenangan batin yang stabil (thuma'ninah). Kita tidak akan mudah tumbang oleh kegagalan dan tidak akan sombong oleh keberhasilan. Al-Qur'an memberikan kita "kekuatan internal" yang membuat kita mampu menghadapi kerasnya kehidupan kota dengan senyuman dan kelapangan dada. Inilah obat terbaik bagi depresi, kecemasan, dan kehampaan jiwa yang banyak melanda manusia modern saat ini.

Al-Qur'an sebagai Standar Etika dan Akhlak di Era Modern

Poin ketiga, Al-Qur'an adalah pedoman akhlak yang paling sempurna. Seringkali, kemajuan teknologi tidak dibarengi dengan kemajuan adab. Di media sosial, kita melihat betapa mudahnya orang mencaci maki, merendahkan martabat orang lain, dan kehilangan rasa malu. Dalam dunia kerja yang kompetitif, terkadang kejujuran dikorbankan demi keuntungan sesaat. Al-Qur'an hadir untuk mengingatkan kita bahwa esensi dari keberagamaan adalah akhlak yang mulia.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 9:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Artinya: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (QS. Al-Isra: 9).

Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an menuntun manusia kepada jalan yang "Aqwam", yaitu jalan yang paling lurus, paling adil, dan paling beradab. Dalam konteks etika, Al-Qur'an mengatur bagaimana kita berbicara (qaulan sadida), bagaimana kita bersikap rendah hati (tawadhu), dan bagaimana kita menghargai sesama manusia tanpa memandang status sosial. Al-Qur'an adalah manual kehidupan yang mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang berintegritas, yang tetap jujur meski tak ada yang melihat, dan tetap baik meski diperlakukan buruk.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan masyarakat urban adalah menerapkan etika Al-Qur'an dalam berkomunikasi digital dan profesional. Menghindari komentar jahat (cyberbullying), tidak menyebarkan aib orang lain, serta menjaga amanah dalam pekerjaan adalah bentuk nyata dari mengikuti petunjuk Al-Qur'an. Saat kita berbisnis, kita ingat larangan curang. Saat kita memimpin, kita ingat kewajiban berlaku adil. Al-Qur'an menjadikan kita pribadi yang memiliki "rem" otomatis dalam bertindak, sehingga kita tidak hanya mengejar kesuksesan duniawi, tapi juga kemuliaan ukhrawi.

Hikmah dari penerapan akhlak Al-Qur'an adalah terciptanya lingkungan yang harmonis dan penuh berkah. Seseorang yang berakhlak Al-Qur'an akan dicintai oleh penduduk bumi dan diridhai oleh penduduk langit. Di tengah masyarakat yang semakin individualis, pribadi yang berpegang pada etika Al-Qur'an akan menjadi oase yang menyejukkan, menjadi teladan bagi keluarga dan rekan kerja, serta membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Akhlak yang baik adalah dakwah yang paling nyata di era modern ini.

Menjadikan Al-Qur'an sebagai Sahabat Setia dan Investasi Abadi

Poin keempat, Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dijadikan sahabat dalam keseharian dan investasi untuk masa depan yang abadi. Banyak dari kita yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menatap layar ponsel, membaca berita yang belum tentu benar, atau menonton hiburan yang melalaikan. Namun, berapa banyak waktu yang kita alokasikan untuk berdialog dengan firman Allah? Padahal, setiap huruf yang kita baca dari Al-Qur'an adalah pahala yang akan menemani kita di alam kubur dan menjadi syafaat di hari kiamat.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).

Hadits ini memberikan motivasi luar biasa bahwa kemuliaan seseorang di mata Allah tidak diukur dari seberapa banyak pengikutnya di media sosial atau seberapa besar saldo rekeningnya, melainkan dari kedekatannya dengan Al-Qur'an. Belajar Al-Qur'an tidak berhenti pada kemampuan membaca tajwidnya saja, melainkan terus berlanjut pada memahami maknanya (tadabbur) dan mengamalkannya dalam kehidupan. Mengajarkannya pun tidak harus menjadi ustadz besar; mengajarkan satu ayat kepada anak istri di rumah atau berbagi pesan kebaikan Al-Qur'an di media sosial sudah termasuk dalam cakupan hadits ini.

Contoh aplikatifnya bagi masyarakat perkotaan yang sibuk adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk mendekat kepada Al-Qur'an. Gunakan aplikasi Al-Qur'an di ponsel untuk membaca satu halaman setiap selesai shalat atau saat menunggu transportasi umum. Ikutilah kajian-kajian tafsir baik secara langsung maupun online untuk memperdalam pemahaman. Jadikan rumah-rumah kita bercahaya dengan lantunan ayat suci, bukan hanya bising dengan suara televisi atau musik. Luangkan waktu 15-20 menit sehari secara konsisten (istiqomah) daripada membaca banyak namun hanya setahun sekali.

Hikmah dari menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat adalah kita tidak akan pernah merasa kesepian. Al-Qur'an akan menjadi pembimbing saat kita bingung, menjadi penghibur saat kita sedih, dan menjadi pengingat saat kita lalai. Lebih dari itu, di hari kiamat nanti, saat semua orang lari dari saudara, ibu, dan ayahnya, Al-Qur'an akan datang sebagai pembela bagi orang-orang yang selalu bersamanya di dunia. Inilah investasi terbaik yang tidak akan pernah mengalami kerugian atau inflasi, sebuah investasi yang keuntungannya akan kita rasakan hingga ke surga-Nya kelak.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin, Sidang Jumat yang dirahmati Allah.

Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita merenung sejenak. Al-Qur'an telah diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu, namun keajaibannya tetap relevan hingga hari ini, bahkan hingga akhir zaman. Ia adalah surat cinta dari Allah untuk kita semua. Jangan biarkan surat cinta itu tergeletak tak terbaca. Jangan biarkan petunjuk jalan itu terabaikan sementara kita tersesat dalam rimba duniawi.

Mari kita bertekad mulai hari ini, untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur'an. Jika selama ini kita lebih sering membaca status orang lain, mari kita lebih sering membaca firman Allah. Jika selama ini kita lebih percaya pada ramalan atau tren manusia, mari kita kembali pada kepastian janji Allah dalam Al-Qur'an. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai imam dalam setiap langkah kita, sebagai cahaya dalam kegelapan pikiran kita, dan sebagai obat bagi setiap luka di hati kita.

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua termasuk golongan Ahlul Qur'an, yaitu orang-orang yang selalu membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Al-Qur'an menjadi syafaat bagi kita, bagi orang tua kita, dan bagi anak cucu kita kelak di hari pembalasan. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa tidak ada bekal yang lebih mulia untuk menghadap Allah selain ketakwaan yang tertanam kuat di dalam dada.

2. Isi Singkat

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Melalui khotbah kedua ini, khatib ingin menegaskan kembali betapa krusialnya peran Al-Qur'an dalam kehidupan kita saat ini. Di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas problematika dunia modern, Al-Qur'an hadir bukan sekadar sebagai teks suci yang dibaca saat upacara keagamaan, melainkan sebagai manual book atau panduan praktis yang menuntun kita dalam setiap aspek kehidupan.

Al-Qur'an adalah penyaring (filter) yang akurat dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan di ruang digital. Ia adalah obat penawar bagi jiwa-jiwa yang lelah dan cemas akibat tekanan duniawi. Dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai standar etika dan pedoman perilaku harian, kita tidak hanya akan meraih ketenangan batin, tetapi juga membangun peradaban yang beradab dan penuh berkah. Mari kita bertekad untuk tidak membiarkan hari-hari kita berlalu tanpa berinteraksi dengan kalam-Nya, agar kelak Al-Qur'an datang sebagai pembela dan pemberi syafaat bagi kita di hadapan Allah SWT.

Selanjutnya, marilah kita bershalawat kepada teladan agung kita, Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 56:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

3. Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an sebagai imam kami, cahaya kami, petunjuk kami, dan rahmat bagi kami. Ingatkanlah kami atas apa yang kami lupakan dari ayat-ayat-Mu, dan ajarkanlah kami apa yang belum kami ketahui darinya.

Ya Allah, berikanlah kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Jadikanlah negeri ini negeri yang thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang makmur di bawah naungan ampunan-Mu. Berikanlah kekuatan kepada para pemimpin kami untuk senantiasa berjalan di atas keadilan dan kebenaran.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.