Mengamalkan Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari
KHOTBAH PERTAMA
1. Pembukaan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin, Sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT.
Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam yang tak henti-hentinya mencurahkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan yang memungkinkan kita melangkahkan kaki menuju rumah-Nya yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Salah satu wujud nyata dari ketakwaan tersebut adalah dengan menghidupkan dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam setiap jengkal kehidupan kita.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 31:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31).
Ayat ini menegaskan bahwa bukti cinta kita kepada Allah bukanlah sekadar kata-kata di lisan, melainkan sejauh mana kita mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern dan masyarakat perkotaan yang serba cepat ini, mengamalkan sunnah seringkali dianggap sebagai sesuatu yang berat atau bahkan kuno. Padahal, sunnah adalah solusi atas segala problematika hidup yang kita hadapi saat ini.
2. Isi Materi
Poin pertama: Sunnah dalam Berkomunikasi dan Bermedia Sosial
Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia,
Di era digital saat ini, kehidupan kita tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Setiap hari, jempol kita bergerak lincah di layar ponsel, mengetik komentar, membagikan berita, dan berinteraksi dengan ribuan orang secara virtual. Namun, seringkali kita lupa bahwa dalam setiap ketikan dan unggahan tersebut, ada tuntunan sunnah yang harus kita jaga. Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas dalam berkomunikasi.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Penjelasan dari hadits ini sangat mendalam. Iman seseorang dikaitkan langsung dengan kemampuannya menjaga lisan—dan dalam konteks hari ini, menjaga tulisan. Sunnah Nabi mengajarkan kita untuk tidak menjadi sumber kegaduhan. Nabi SAW adalah sosok yang sangat irit bicara namun setiap kata yang keluar dari lisan beliau adalah hikmah. Beliau tidak pernah mencaci, tidak pernah menyebarkan fitnah, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan.
Contoh aplikatifnya dalam kehidupan perkotaan saat ini adalah bagaimana kita bersikap di grup WhatsApp atau kolom komentar media sosial. Sebelum kita menekan tombol "kirim" atau "bagikan", tanyakan pada diri sendiri: Apakah informasi ini benar? Apakah informasi ini bermanfaat? Apakah informasi ini akan menyakiti perasaan orang lain? Mengamalkan sunnah berarti kita berhenti menjadi penyebar hoaks, berhenti melakukan cyber-bullying, dan berhenti ikut campur dalam urusan yang tidak bermanfaat bagi kita. Jika kita tidak memiliki sesuatu yang baik untuk dikatakan atau ditulis, maka sunnahnya adalah diam.
Hikmah dari mengamalkan sunnah dalam berkomunikasi ini sangat luar biasa. Pertama, kita akan terhindar dari dosa jariyah—dosa yang terus mengalir karena tulisan buruk kita dibagikan berulang kali. Kedua, kita akan memiliki ketenangan batin. Orang yang sibuk menjaga lisannya biasanya memiliki hati yang lebih bersih dan jauh dari konflik yang melelahkan mental. Di tengah tingginya tingkat stres masyarakat perkotaan, diam dari hal yang tidak berguna adalah obat bagi jiwa.
Poin kedua: Sunnah dalam Etos Kerja dan Profesionalisme
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Bagi kita yang hidup di kota besar, sebagian besar waktu kita habiskan untuk bekerja. Mulai dari berangkat pagi menembus kemacetan hingga pulang saat matahari telah terbenam. Seringkali kita memisahkan antara ibadah dan pekerjaan. Kita menganggap shalat adalah ibadah, sementara bekerja hanyalah rutinitas mencari materi. Padahal, jika kita mengikuti sunnah Rasulullah SAW, setiap peluh yang menetes dalam pekerjaan bisa bernilai pahala yang sangat besar.
Rasulullah SAW adalah seorang profesional sejati. Sejak muda, beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur dan ulet. Beliau mengajarkan sebuah prinsip besar dalam bekerja yang disebut dengan itqan (profesionalisme/kesempurnaan). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tabarani, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya: "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (secara profesional dan tuntas)." (HR. At-Tabarani).
Penjelasan dari prinsip ini adalah bahwa seorang Muslim yang mengikuti sunnah tidak akan bekerja dengan asal-asalan. Sunnah bukan hanya tentang memakai wangi-wangian atau bersiwak, tapi sunnah juga tentang bagaimana kita menyelesaikan laporan tepat waktu, bagaimana kita jujur dalam bertransaksi, dan bagaimana kita memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan atau klien. Rasulullah SAW sangat membenci kecurangan dan kemalasan.
Contoh aplikatifnya, jika Anda seorang karyawan, mengamalkan sunnah berarti Anda datang tepat waktu dan tidak memakan jam kerja untuk urusan pribadi yang tidak penting. Jika Anda seorang pengusaha, Anda tidak mengurangi timbangan atau menyembunyikan cacat barang dagangan. Jika Anda seorang pejabat, Anda menjalankan amanah tanpa menerima suap. Inilah sunnah yang nyata di dunia kerja. Kita bekerja bukan hanya untuk mengejar target perusahaan, tapi untuk mengejar ridha Allah SWT.
Hikmah dari bekerja sesuai sunnah adalah keberkahan dalam rezeki. Rezeki yang berkah bukan hanya soal jumlahnya yang banyak, tapi soal bagaimana rezeki itu membawa ketenangan bagi keluarga, kesehatan bagi tubuh, dan kemudahan dalam beribadah. Selain itu, profesionalisme yang didasari nilai-nilai nubuwah akan membangun kepercayaan (trust) dari orang lain, yang mana dalam dunia modern, kepercayaan adalah aset yang paling berharga.
Poin ketiga: Sunnah dalam Interaksi Sosial dan Bertetangga
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Salah satu tantangan hidup di perkotaan adalah sikap individualisme yang tinggi. Seringkali kita tidak mengenal siapa yang tinggal di sebelah rumah kita atau siapa yang berada di satu lantai apartemen dengan kita. Padahal, Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya hubungan sosial dan memuliakan tetangga. Beliau bersabda bahwa Jibril terus-menerus berwasiat kepadanya tentang tetangga sampai-sampai beliau mengira tetangga akan mendapatkan harta waris.
Rasulullah SAW adalah sosok yang paling lembut akhlaknya. Beliau selalu memulai salam, memberikan senyuman, dan sangat peduli terhadap kesulitan orang lain. Beliau bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Artinya: "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi).
Penjelasan dari sunnah ini sangat relevan untuk mencairkan kekakuan sosial di kota besar. Mengamalkan sunnah dalam interaksi sosial berarti kita berusaha menjadi pribadi yang menyenangkan bagi lingkungan sekitar. Sunnah mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan jabatan atau kekayaan yang kita miliki. Rasulullah SAW, meskipun seorang pemimpin besar, tetap mau mendengarkan keluh kesah orang yang paling miskin sekalipun.
Contoh aplikatifnya sangat sederhana namun berdampak besar. Mulailah dengan menyapa satpam di komplek perumahan, memberikan senyum kepada rekan kerja di lift, atau sesekali mengirimkan makanan kepada tetangga sebelah rumah meskipun hanya sedikit. Dalam bermedia sosial, sunnah ini diaplikasikan dengan memberikan komentar yang membangun dan tidak memicu perpecahan. Menghargai perbedaan pendapat dengan kepala dingin adalah bagian dari akhlak sunnah yang mulai langka di zaman sekarang.
Hikmah dari mengamalkan sunnah dalam interaksi sosial ini adalah terciptanya lingkungan yang harmonis dan suportif. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan dukungan orang lain. Dengan menghidupkan sunnah saling menyayangi dan menghormati, kita sedang membangun sistem keamanan sosial yang paling kuat. Masyarakat yang saling peduli akan lebih tangguh menghadapi berbagai krisis, baik krisis ekonomi maupun krisis mental yang sering melanda penduduk perkotaan.
Poin keempat: Sunnah dalam Menjaga Diri dan Pola Hidup Sehat
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Poin terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana sunnah mengatur pola hidup kita secara pribadi. Banyak dari kita yang terjebak dalam gaya hidup tidak sehat karena tuntutan pekerjaan yang tinggi. Kurang tidur, makan berlebihan, dan jarang berolahraga menjadi pemandangan umum. Padahal, tubuh kita adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang luar biasa dalam menjaga kesehatan fisik dan mental.
Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat kuat dan jarang sakit. Rahasianya terletak pada pola hidup beliau yang sangat disiplin. Beliau tidak pernah makan secara berlebihan. Beliau bersabda dalam sebuah hadits:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ
Artinya: "Tidak ada wadah yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya." (HR. Tirmidzi). Beliau menyarankan agar perut dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.
Penjelasan dari sunnah ini adalah tentang keseimbangan (tawazun). Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk tidur lebih awal setelah shalat Isya jika tidak ada urusan yang mendesak, dan bangun di sepertiga malam terakhir. Pola tidur ini secara medis terbukti sangat baik untuk regenerasi sel dan kesehatan jantung. Selain itu, beliau juga menganjurkan olahraga seperti memanah, berkuda, dan berenang, yang dalam konteks sekarang bisa kita sesuaikan dengan aktivitas fisik yang memungkinkan.
Contoh aplikatifnya bagi masyarakat perkotaan adalah dengan mulai memperhatikan asupan makanan. Berhenti makan sebelum kenyang adalah sunnah yang sangat efektif mencegah berbagai penyakit modern seperti diabetes dan obesitas. Mengatur waktu tidur agar tidak selalu begadang untuk hal yang tidak perlu juga merupakan bentuk pengamalan sunnah. Selain itu, menjaga kebersihan diri (thaharah) dengan berwudhu secara sempurna dan menjaga kerapihan adalah sunnah yang membuat kita tampil percaya diri dan sehat.
Hikmah dari menjaga pola hidup sesuai sunnah adalah kesiapan kita dalam beribadah. Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk, bisa bekerja dengan produktif, dan bisa memberikan manfaat lebih banyak kepada orang lain. Kesehatan adalah modal utama untuk menjalankan misi kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Mengamalkan sunnah dalam hal kesehatan adalah bentuk syukur yang nyata atas nikmat fisik yang Allah berikan.
3. Penutup
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebagai penutup khotbah pertama ini, marilah kita merenung sejenak. Sunnah Nabi Muhammad SAW bukanlah beban, melainkan cahaya yang menuntun kita di tengah kegelapan fitnah zaman. Sunnah bukan hanya tentang simbol-simbol lahiriah, melainkan tentang transformasi batin dan perbaikan perilaku dalam setiap aspek kehidupan. Mulai dari cara kita berbicara di media sosial, cara kita bekerja di kantor, cara kita berinteraksi dengan tetangga, hingga cara kita menjaga kesehatan diri sendiri.
Mengamalkan sunnah adalah jalan pintas menuju cinta Allah SWT. Ketika kita berusaha menghidupkan satu saja sunnah Nabi yang mulai ditinggalkan orang, maka Allah menjanjikan pahala yang sangat besar. Mari kita mulai dari hal-hal kecil yang konsisten. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai mengamalkan sunnah. Jadikanlah Rasulullah SAW sebagai satu-satunya influencer sejati dalam hidup kita, yang setiap gerak-geriknya layak kita tiru dan kita teladani.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan, hidayah, dan keistiqamahan untuk senantiasa mengikuti jejak langkah Baginda Nabi Muhammad SAW. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak karena kecintaan kita dalam menghidupkan sunnah-sunnahnya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
1. Pembukaan
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa sebaik-baiknya jalan hidup adalah mengikuti petunjuk Allah dan sunnah Rasul-Nya.
2. Isi Singkat
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Melalui khotbah yang singkat ini, khatib ingin kembali menegaskan bahwa mengamalkan sunnah Rasulullah SAW bukanlah sekadar beban ibadah, melainkan sebuah kebutuhan bagi jiwa kita. Sunnah adalah manifestasi cinta kita kepada Allah SWT. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, sunnah mencakup seluruh dimensi kehidupan kita. Ia hadir saat kita mengetik pesan di media sosial agar tetap menjaga lisan, ia hadir saat kita bekerja dengan penuh integritas dan profesionalisme, serta ia hadir dalam cara kita menjaga kesehatan fisik sebagai amanah dari-Nya.
Dengan menghidupkan sunnah dalam keseharian, kita sedang mengundang keberkahan Allah masuk ke dalam rumah tangga kita, pekerjaan kita, dan interaksi sosial kita. Mari kita jadikan akhlak mulia Rasulullah sebagai cermin dalam bersikap kepada sesama, sehingga Islam yang damai dan penuh rahmat dapat dirasakan oleh lingkungan di sekitar kita.
Sebagai bentuk kecintaan kita yang paling utama kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, marilah kita perbanyak bershalawat kepadanya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
3. Doa Penutup
Marilah kita menundukkan kepala sejenak, memohon kepada Allah SWT dengan penuh kekhusyukan.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk senantiasa istiqamah dalam menjalankan sunnah kekasih-Mu, Nabi Muhammad SAW. Jadikanlah setiap langkah kaki kami, setiap pekerjaan kami, dan setiap ucapan kami bernilai ibadah di sisi-Mu.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, limpahkanlah kedamaian, kemakmuran, dan keselamatan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Lindungilah negeri ini dari segala marabahaya, perpecahan, dan fitnah. Anugerahkanlah pemimpin-pemimpin yang adil dan mencintai rakyatnya.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.