Adab dan Amalan Sunnah di Hari Jumat
KHOTBAH PERTAMA
1. Pembukaan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin, sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang dengan limpahan rahmat-Nya kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara pagi ini, menggerakkan langkah kaki menuju rumah-Nya yang mulia, dan bersimpuh dalam ketaatan di hari yang paling utama dalam sepekan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah menuntun kita dari gelapnya kejahiliyahan menuju terangnya cahaya iman.
Di mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab, tidak ada bekal yang lebih baik untuk menghadap Allah kelak selain ketakwaan yang terhujam kuat di dalam dada.
Hari ini kita berada di Sayyidul Ayyam, penghulunya hari. Hari Jumat bukan sekadar rutinitas mingguan bagi seorang Muslim, melainkan sebuah momentum besar untuk melakukan "reset" spiritual di tengah hiruk-pikuk kehidupan duniawi yang seringkali melalaikan. Di tengah kesibukan kita sebagai masyarakat perkotaan yang dinamis, yang jemarinya tak lepas dari layar gawai dan pikirannya dipenuhi dengan target-target pekerjaan, hari Jumat hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.
2. Isi Materi
Kesucian Lahir dan Batin Melalui Mandi Jumat dan Kebersihan Diri
Poin pertama yang menjadi perhatian kita dalam menyambut hari Jumat adalah kesempurnaan dalam bersuci. Islam adalah agama yang sangat mencintai keindahan dan kebersihan. Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang sangat detail mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya mempersiapkan fisiknya sebelum menghadap Allah di hari Jumat.
Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang sudah baligh." (HR. Bukhari No. 879 dan Muslim No. 846). Para ulama menjelaskan bahwa "wajib" di sini bermakna sunnah muakkadah atau sangat ditekankan, sebagai bentuk penghormatan terhadap hari Jumat.
Penjelasan lebih mendalam mengenai hal ini adalah bahwa mandi Jumat bukan sekadar membasahi tubuh dengan air. Ia adalah simbol pembersihan diri dari kotoran-kotoran duniawi yang melekat selama enam hari sebelumnya. Ketika kita mandi dengan niat mengikuti sunnah, setiap tetesan airnya menjadi penggugur dosa dan penenang bagi jiwa yang lelah. Selain mandi, kita juga disunnahkan untuk memotong kuku, merapikan kumis, mencabut bulu ketiak, dan menggunakan wewangian terbaik yang kita miliki.
Contoh aplikatifnya dalam kehidupan masyarakat perkotaan saat ini adalah dengan mengatur waktu sebaik mungkin. Seringkali karena alasan mengejar jam kantor atau terjebak kemacetan, banyak dari kita yang datang ke masjid dalam keadaan terburu-buru, berkeringat, dan belum sempat mempersiapkan fisik dengan maksimal. Marilah kita ubah kebiasaan ini. Anggaplah hari Jumat sebagai hari "pertemuan penting" dengan Sang Pencipta. Jika untuk bertemu klien atau atasan kita bisa berpakaian rapi dan harum, maka untuk menghadap Allah di hari Jumat, kita harus jauh lebih rapi. Gunakan pakaian terbaik, bukan sekadar pakaian yang ada di tumpukan paling atas. Pastikan aroma tubuh kita tidak mengganggu jamaah di sebelah kita, karena malaikat pun merasa terganggu dengan bau yang tidak sedap.
Hikmah di balik sunnah ini sangatlah dalam. Kebersihan lahiriah akan memicu kesiapan batiniah. Ketika tubuh kita bersih dan harum, hati kita akan lebih mudah untuk khusyuk. Selain itu, ini adalah bentuk dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) kepada lingkungan sekitar bahwa seorang Muslim adalah pribadi yang rapi, bersih, dan beradab. Di tengah dunia media sosial yang sering menonjolkan aspek visual, mari kita tunjukkan bahwa estetika seorang Muslim dimulai dari ketaatannya pada sunnah kesucian.
Adab di Dalam Masjid: Datang Lebih Awal dan Menyimak Khotbah
Poin kedua yang tidak kalah pentingnya adalah adab saat berada di masjid, terutama terkait waktu kedatangan dan sikap saat khotbah berlangsung. Banyak di antara kita yang masih menganggap remeh waktu kedatangan, sehingga seringkali baru masuk ke masjid saat khatib sudah naik ke atas mimbar. Padahal, ada keutamaan besar yang terlewatkan begitu saja.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA:
"Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah, kemudian ia pergi ke masjid pada jam pertama, maka seolah-olah ia berkurban seekor unta. Siapa yang pergi pada jam kedua, seolah-olah ia berkurban seekor sapi. Siapa yang pergi pada jam ketiga, seolah-olah ia berkurban seekor kambing yang bertanduk... Dan apabila imam telah keluar (untuk berkhotbah), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir (khotbah) tersebut." (HR. Bukhari No. 881 dan Muslim No. 850).
Penjelasan dari hadits ini sangat jelas bahwa ada "kompetisi" kebaikan di hari Jumat. Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid mencatat siapa yang datang lebih awal. Namun, catatan itu akan ditutup ketika khatib memulai khotbahnya. Sangat disayangkan jika kita yang tinggal di perkotaan dengan segala fasilitas transportasi, justru sering terlambat dan kehilangan kesempatan mendapatkan pahala berkurban unta atau sapi tersebut.
Secara aplikatif, bagi kita yang aktif bermedia sosial, adab yang paling krusial saat ini adalah meletakkan gawai atau smartphone kita. Sering kita jumpai jamaah yang masih asyik membalas pesan WhatsApp, melihat feed Instagram, atau bahkan bermain game saat khotbah berlangsung. Padahal, menegur orang lain yang berbicara saat khotbah saja sudah bisa membatalkan pahala Jumat kita, apalagi jika kita sendiri yang sibuk dengan gawai. Rasulullah SAW memperingatkan bahwa jika kita berkata "diamlah" kepada teman kita saat imam berkhotbah, maka kita telah melakukan perbuatan yang sia-sia (Laghau).
Hikmah dari adab ini adalah melatih kedisiplinan dan kefokusan. Di dunia yang penuh dengan distraksi informasi, shalat Jumat adalah momen latihan untuk fokus total kepada Allah. Dengan datang lebih awal, kita memiliki waktu untuk melaksanakan shalat sunnah Tahiyatul Masjid, membaca Al-Qur'an, atau sekadar berdzikir menenangkan pikiran sebelum mendengarkan nasihat khatib. Ini adalah bentuk penghormatan kita terhadap syiar Allah. Jika kita mampu disiplin hadir tepat waktu dalam urusan dunia, maka urusan akhirat haruslah menjadi prioritas yang lebih utama.
Menghidupkan Cahaya dengan Membaca Surah Al-Kahf
Poin ketiga yang menjadi amalan sunnah utama di hari Jumat adalah membaca Surah Al-Kahf. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang penuh dengan fitnah dan ujian keimanan, Surah Al-Kahf hadir sebagai pelindung dan pemberi cahaya bagi setiap Muslim yang membacanya.
Dalil mengenai hal ini terdapat dalam hadits dari Abu Sa’id al-Khudri RA, bahwa Nabi SAW bersabda:
"Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahf pada hari Jumat, maka Allah akan meneranginya dengan cahaya di antara dua Jumat." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).
Penjelasan mengenai "cahaya" dalam hadits ini bukan hanya bermakna cahaya di akhirat kelak, tetapi juga cahaya bashirah (mata hati) di dunia. Surah Al-Kahf mengandung empat kisah besar: kisah Ashabul Kahfi (ujian iman), kisah pemilik dua kebun (ujian harta), kisah Nabi Musa dan Khidir (ujian ilmu), serta kisah Dzulkarnain (ujian kekuasaan). Keempat ujian ini adalah inti dari segala fitnah yang kita hadapi di dunia modern saat ini.
Contoh aplikatifnya, di tengah kesibukan kita, mungkin terasa berat untuk membaca 110 ayat sekaligus. Namun, sunnah ini bisa kita cicil. Kita bisa membacanya mulai dari Kamis malam (malam Jumat) setelah Maghrib atau Isya, kemudian melanjutkannya di hari Jumat pagi, atau saat waktu istirahat kantor sebelum berangkat ke masjid. Bagi kita yang sering menghabiskan waktu di perjalanan (commuting), kita bisa mendengarkan murottal Surah Al-Kahf atau membacanya melalui aplikasi Al-Qur'an di ponsel kita. Yang terpenting adalah adanya interaksi kita dengan ayat-ayat Allah tersebut di hari yang mulia ini.
Hikmah dari membaca Surah Al-Kahf adalah sebagai benteng dari fitnah Dajjal dan fitnah-fitnah akhir zaman lainnya. Masyarakat perkotaan saat ini sangat rentan terhadap fitnah informasi, hoaks, dan gaya hidup materialisme yang berlebihan. Dengan merenungi kisah-kisah dalam Al-Kahf, kita diingatkan bahwa kekuatan sesungguhnya ada pada iman, bukan pada harta atau jabatan. Cahaya yang Allah berikan akan membantu kita membedakan mana yang hak dan mana yang batil di tengah kerancuan nilai-nilai moral di media sosial dan lingkungan pergaulan kita. Ia memberikan ketenangan batin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang beriman, sebagaimana Dia menjaga pemuda Kahfi di dalam gua.
Memperbanyak Shalawat dan Mencari Waktu Mustajab
Poin keempat atau yang terakhir adalah memperbanyak shalawat kepada Baginda Rasulullah SAW dan memanfaatkan waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Hari Jumat adalah hari di mana hubungan batin antara umat dan nabinya diperkuat melalui untaian shalawat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jumat... maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawatmu ditunjukkan kepadaku." (HR. Abu Dawud No. 1047). Selain itu, Rasulullah juga menyebutkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim berdoa di dalamnya, niscaya Allah akan mengabulkannya. Waktu yang paling kuat pendapatnya adalah di akhir hari Jumat, yaitu antara waktu Ashar hingga terbenamnya matahari.
Penjelasan mengenai amalan ini sangatlah menyentuh. Shalawat adalah bentuk cinta dan terima kasih kita kepada Rasulullah yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya Islam. Di hari Jumat, shalawat kita disampaikan langsung kepada beliau. Ini adalah kehormatan besar bagi kita sebagai umatnya. Sementara itu, adanya waktu mustajab adalah bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya senantiasa berharap dan bergantung hanya kepada-Nya.
Contoh aplikatif bagi masyarakat urban yang sibuk adalah dengan menjadikan shalawat sebagai "dzikir nafas" di sela-sela aktivitas. Saat kita sedang menyetir di tengah kemacetan, saat menunggu lift, atau saat sedang menatap layar komputer, lisan kita bisa terus basah dengan ucapan "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad". Kemudian, ketika waktu Ashar telah tiba, luangkanlah waktu 10-15 menit sebelum Maghrib untuk benar-benar fokus berdoa. Matikan notifikasi ponsel, menjauhlah sejenak dari keramaian, dan tumpahkan segala keluh kesah, harapan, serta doa-doa kita kepada Allah SWT.
Hikmah dari memperbanyak shalawat dan doa ini adalah kesehatan mental dan ketenangan jiwa. Hidup di kota besar seringkali memicu stres dan kecemasan yang tinggi. Shalawat berfungsi sebagai penyejuk hati, sementara doa adalah katarsis atau saluran pelepasan beban pikiran yang paling efektif. Dengan bershalawat, kita merasa dekat dengan Rasulullah, dan dengan berdoa di waktu mustajab, kita merasa memiliki sandaran yang Maha Kuat. Ini akan menumbuhkan optimisme dalam menjalani hidup, bahwa sesulit apa pun tantangan pekerjaan atau masalah keluarga, kita punya Allah yang Maha Mengabulkan doa dan kita punya syafaat Rasulullah yang kita harapkan.
3. Penutup
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Sebagai penutup khotbah pertama ini, marilah kita merenung sejenak. Hari Jumat bukan sekadar hari libur atau hari pendek di kantor. Ia adalah anugerah besar yang Allah berikan kepada umat Muhammad SAW yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Setiap adab dan sunnah yang kita jalankan, mulai dari mandi, datang awal ke masjid, membaca Al-Kahf, hingga bershalawat, semuanya bertujuan untuk satu hal: mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan memuliakan agama-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah: 9).
Ayat ini adalah panggilan cinta dari Allah. Dia meminta kita meninggalkan sejenak urusan dunia, transaksi bisnis, dan segala kesibukan kita demi sesuatu yang "lebih baik". Marilah kita jawab panggilan ini dengan kualitas ibadah yang lebih baik pula. Jangan biarkan Jumat kita berlalu begitu saja tanpa bekas, tanpa tambahan pahala, dan tanpa perubahan sikap yang lebih mulia.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk dapat istiqamah menjalankan sunnah-sunnah Nabi-Nya. Semoga Allah menjadikan setiap langkah kita menuju masjid sebagai penggugur dosa-dosa kita, dan semoga Allah menerima segala amal ibadah kita serta mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan di hari yang mulia ini. Amin ya Rabbal 'Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHOTBAH KEDUA
1. Pembukaan
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.
2. Isi Singkat
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mengakhiri rangkaian ibadah Jumat kita pada siang hari ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Sebagaimana telah disampaikan pada khotbah pertama, hari Jumat bukan sekadar rutinitas mingguan, melainkan momentum emas untuk membasuh jiwa dan raga kita dari debu-debu kelalaian duniawi.
Adab-adab yang telah kita pelajari—mulai dari kesucian fisik melalui mandi Jumat, ketenangan batin dengan hadir lebih awal tanpa gangguan teknologi, hingga perlindungan spiritual melalui Surah Al-Kahf—adalah wasilah agar kita tidak tergilas oleh fitnah zaman yang kian berat. Mari kita berkomitmen untuk tidak lagi menyia-nyiakan keutamaan hari ini. Jadikanlah setiap sunnah yang kita jalankan sebagai bukti cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Di sisa waktu hari Jumat yang mulia ini, mari kita perbanyak shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
3. Doa Penutup
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Limpahkanlah keberkahan-Mu atas bangsa dan negara kami, Indonesia. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, makmur, dan penuh ampunan-Mu. Berikanlah kekuatan kepada para pemimpin kami untuk senantiasa berjalan di atas keadilan dan kebenaran.
Ya Allah, teguhkanlah hati kami dalam menjalankan sunnah-sunnah kekasih-Mu. Jadikanlah hari Jumat kami sebagai pembuka pintu rezeki, penenang hati yang gundah, dan penghapus dosa-dosa kami yang telah lalu. Selamatkanlah kami dari fitnah dunia dan fitnah akhirat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.