Khotbah Jumat · Dakwah & Amar Ma'ruf Nahi Munkar · 12 October 2026

Menjadi Muslim yang Gemar Berdakwah

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan Semesta Alam yang tak henti-hentinya mencurahkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan yang memungkinkan kita melangkahkan kaki menuju rumah Allah yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Di atas mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, tidak ada bekal yang lebih mulia untuk dibawa menghadap Sang Khalik selain ketakwaan yang tulus.

Pada kesempatan siang hari ini, izinkan khatib menyampaikan sebuah tema yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan kita saat ini, yaitu: "Menjadi Muslim yang Gemar Berdakwah". Dakwah bukanlah tugas yang hanya dipikul oleh para kiai, ustaz, atau ulama di atas mimbar. Dakwah adalah denyut nadi setiap mukmin, sebuah panggilan cinta untuk mengajak sesama menuju jalan cahaya Allah SWT, terutama di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang seringkali melalaikan kita.

2. Isi Materi

Dakwah adalah Kewajiban Setiap Individu Muslim

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, seringkali muncul persepsi di tengah masyarakat kita bahwa dakwah adalah tugas eksklusif bagi mereka yang memiliki gelar keagamaan atau mereka yang mengenakan jubah dan sorban. Padahal, jika kita merujuk pada tuntunan syariat, dakwah adalah kewajiban yang melekat pada setiap pundak orang yang bersyahadat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104).

Ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati hanya akan diraih oleh mereka yang mengambil peran dalam menyeru kepada kebaikan. Dalam konteks kehidupan perkotaan yang serba cepat, dakwah tidak harus selalu berupa ceramah panjang. Dakwah bisa dimulai dari lingkungan terkecil kita. Seorang ayah yang mengajak anaknya shalat berjamaah adalah dakwah. Seorang atasan yang memberikan jeda waktu bagi karyawannya untuk menunaikan shalat tepat waktu adalah dakwah. Seorang pedagang yang jujur dalam timbangannya demi mengharap ridha Allah juga merupakan bentuk dakwah yang nyata.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika kita berada di lingkungan kantor atau komunitas hobi. Kita tidak perlu menggurui, namun cukup dengan menunjukkan identitas keislaman kita melalui tindakan. Misalnya, saat waktu shalat tiba, kita dengan sopan berpamitan untuk memenuhi panggilan Allah. Tindakan sederhana ini seringkali menjadi pengingat bagi rekan kerja lainnya yang mungkin sedang lalai. Inilah esensi dakwah: menjadi pengingat dalam kebaikan.

Hikmah dari memahami dakwah sebagai kewajiban individu adalah tumbuhnya rasa tanggung jawab sosial. Kita tidak lagi menjadi pribadi yang egois, yang hanya memikirkan keselamatan diri sendiri. Kita menyadari bahwa masyarakat yang baik hanya bisa terwujud jika setiap anggotanya saling menjaga dan saling mengingatkan. Dengan berdakwah, kita sebenarnya sedang membangun benteng perlindungan bagi diri dan keluarga kita dari pengaruh buruk lingkungan.

Bijak Berdakwah di Era Digital dan Media Sosial

Kita hidup di zaman di mana jarak bukan lagi penghalang. Informasi menyebar secepat kedipan mata melalui gawai di tangan kita. Bagi seorang Muslim, fenomena media sosial ini adalah ladang dakwah yang sangat luas, namun sekaligus ujian yang sangat berat. Allah SWT memberikan panduan tentang bagaimana cara berkomunikasi dalam dakwah melalui Surat An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik..." (QS. An-Nahl: 125).

Di dunia maya, "hikmah" berarti kecerdasan dalam memilih konten. "Mauizhah hasanah" berarti tutur kata yang santun, bukan caci maki atau menyebarkan kebencian. Saat ini, banyak orang yang merasa sedang berdakwah di media sosial, namun justru menggunakan kata-kata kasar, menghakimi, atau bahkan menyebarkan berita bohong (hoax) yang memecah belah umat. Itu bukanlah dakwah, melainkan fitnah.

Contoh aplikatifnya bagi kita masyarakat perkotaan yang aktif bermedia sosial adalah dengan berhenti menjadi penyebar berita yang belum jelas kebenarannya. Sebelum menekan tombol "share" atau "bagikan", tanyakan pada diri sendiri: Apakah konten ini bermanfaat? Apakah ini sesuai fakta? Apakah ini akan membawa orang lebih dekat kepada Allah atau justru menjauh? Jika kita melihat ada kemungkaran di media sosial, jangan membalasnya dengan kemungkaran serupa. Gunakanlah bahasa yang sejuk. Satu kutipan ayat atau hadits yang dibagikan dengan niat tulus bisa jadi menjadi hidayah bagi orang lain yang sedang dirundung kesedihan atau keraguan.

Hikmah dari berdakwah dengan hikmah di media sosial adalah terciptanya ekosistem digital yang sehat. Ketika kita memenuhi lini masa kita dengan pesan-pesan positif, optimisme, dan ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin, maka kegelapan hoaks dan kebencian akan tersingkirkan. Ingatlah, setiap jempol kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Jadikanlah akun media sosial kita sebagai saksi kebaikan di hari kiamat kelak, bukan sebagai pemberat dosa.

Dakwah Bil Hal: Menjadi Teladan Melalui Akhlak Mulia

Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia, dakwah yang paling efektif bukanlah dakwah yang hanya berhenti di lisan, melainkan dakwah yang terpancar melalui perbuatan atau yang dikenal dengan Dakwah Bil Hal. Rasulullah SAW adalah contoh nyata bagaimana akhlak mulia mampu melunakkan hati yang paling keras sekalipun. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

Artinya: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).

Di masyarakat perkotaan yang cenderung individualis, akhlak seorang Muslim adalah magnet dakwah yang luar biasa. Orang mungkin tidak akan mendengarkan ceramah kita, tetapi mereka akan memperhatikan bagaimana kita bersikap. Bagaimana kita memperlakukan tetangga yang berbeda keyakinan, bagaimana kita menjaga kebersihan fasilitas umum, dan bagaimana kita menunjukkan integritas dalam bekerja. Jika seorang Muslim dikenal sebagai orang yang paling jujur, paling tepat waktu, dan paling ringan tangan membantu kesulitan orang lain, maka secara otomatis ia telah berdakwah tentang keindahan Islam.

Contoh aplikatifnya adalah dalam kehidupan bertetangga di apartemen atau perumahan. Seringkali kita tidak saling mengenal dengan tetangga sebelah. Mulailah dakwah dengan senyuman, menyapa, atau sesekali berbagi makanan. Ketika mereka melihat betapa santun dan pedulinya seorang Muslim, maka stigma negatif tentang Islam akan luntur dengan sendirinya. Begitu pula di tempat kerja, jadilah karyawan yang paling amanah. Jangan mengambil hak orang lain, jangan korupsi waktu, dan jadilah solusi bagi setiap masalah. Itulah dakwah yang nyata.

Hikmah dari Dakwah Bil Hal ini adalah Islam akan dicintai karena keindahan perilakunya, bukan hanya karena kebenaran teorinya. Dakwah melalui akhlak memiliki daya jangkau yang lebih luas melampaui batas-batas agama dan suku. Ketika kita berakhlak mulia, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan manfaat bagi seluruh alam. Ini adalah cara paling elegan untuk membela kehormatan Islam di mata dunia.

Menjaga Keikhlasan dan Kesabaran dalam Berdakwah

Poin terakhir yang sangat krusial dalam perjalanan dakwah adalah menjaga niat dan kesabaran. Berdakwah bukanlah tentang seberapa banyak orang yang mengikuti kita, atau seberapa banyak "like" dan "follower" yang kita dapatkan. Dakwah adalah tentang menyampaikan kebenaran semata-mata karena Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Artinya: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." (HR. Bukhari).

Hadits ini memberikan dua pelajaran besar. Pertama, jangan meremehkan ilmu yang sedikit. Jika kita hanya tahu satu ayat tentang syukur, sampaikanlah. Kedua, tugas kita hanyalah menyampaikan (tabligh), sedangkan hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT. Seringkali di masyarakat perkotaan, kita merasa berkecil hati ketika ajakan kebaikan kita ditolak, atau bahkan diejek sebagai orang yang "sok suci" atau "hijrah yang berlebihan". Di sinilah kesabaran diuji.

Contoh aplikatifnya adalah ketika kita mengajak teman untuk berhenti dari kebiasaan buruk, namun ia justru menjauhi kita. Janganlah kita membalasnya dengan kemarahan atau perasaan lebih mulia. Tetaplah bersikap baik dan doakan dia dalam sujud-sujud kita. Dakwah membutuhkan nafas panjang. Bisa jadi benih kebaikan yang kita tanam hari ini baru akan tumbuh dan berbuah bertahun-tahun kemudian. Jangan pernah merasa gagal jika orang belum berubah, karena tugas kita bukan mengubah orang, tapi menyampaikan pesan dengan cara terbaik.

Hikmah dari kesabaran dan keikhlasan ini adalah ketenangan batin. Seorang pendakwah yang ikhlas tidak akan haus pujian dan tidak akan tumbang karena cercaan. Ia menyadari bahwa setiap kata baik yang diucapkan dan setiap langkah yang diambil untuk mengajak orang lain kepada Allah akan dicatat sebagai amal jariyah. Kesabaran dalam berdakwah juga akan membentuk karakter kita menjadi pribadi yang tangguh, rendah hati, dan penuh kasih sayang terhadap sesama manusia, karena kita memandang mereka dengan kacamata kasih sayang Allah, bukan dengan kacamata penghakiman.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

Sebagai kesimpulan dari khotbah kita hari ini, marilah kita sadari bahwa setiap kita adalah duta Islam. Dakwah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi setiap jiwa yang merindukan ridha Allah. Di tengah gemerlap dunia perkotaan dan derasnya arus informasi digital, jadilah oase yang menyejukkan. Jadilah pribadi yang gemar mengajak pada kebaikan, baik melalui lisan, tulisan di media sosial, maupun melalui keindahan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai berdakwah, karena dakwah itu sendiri adalah proses untuk memperbaiki diri. Sampaikanlah kebenaran dengan penuh hikmah, santun dalam bertutur, dan sabar dalam menghadapi tantangan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing lisan dan perbuatan kita agar selalu berada di jalan-Nya, dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, yaitu mereka yang saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ وَالتَّقْوَى، وَنَهَانَا عَنِ الْفَسَادِ وَالْهَوَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

2. Isi Singkat

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Melalui khotbah kedua ini, khatib ingin menegaskan kembali betapa mulianya tugas dakwah yang ada di pundak kita masing-masing. Dakwah bukanlah sekadar ceramah di atas mimbar, melainkan setiap upaya kita untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Di era modern yang penuh dengan tantangan moral ini, jadilah Muslim yang gemar berdakwah dengan cara yang paling bijak.

Gunakanlah lisan kita untuk menyebarkan kedamaian, gunakanlah jempol kita di media sosial untuk membagikan kebenaran, dan yang paling utama, gunakanlah akhlak kita sebagai bukti nyata keindahan Islam. Dengan menjadi teladan yang baik (uswah hasanah), kita telah berdakwah tanpa perlu banyak kata. Semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama dan penjaga moral di tengah masyarakat.

Marilah kita tutup rangkaian ibadah ini dengan memohon ampunan dan keberkahan. Namun sebelumnya, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad saw., sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

3. Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.

Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Berikanlah kami kekuatan untuk senantiasa istiqamah di jalan dakwah-Mu. Jadikanlah kami pribadi yang gemar mengajak pada kebaikan dan menjadi pelopor perbaikan akhlak di lingkungan kami.

Ya Allah, limpahkanlah kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Hindarkanlah negeri kami dari perpecahan, fitnah, dan bencana. Pilihlah bagi kami pemimpin-pemimpin yang mencintai rakyatnya dan takut kepada-Mu.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.