Khotbah Jumat · Pernikahan & Keluarga Sakinah · 13 October 2026

Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan Semesta Alam yang tiada henti-hentinya mengucurkan nikmat, rahmat, serta hidayah-Nya kepada kita semua. Berkat izin-Nya, kita kembali dipertemukan di rumah-Nya yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat, untuk menunaikan kewajiban salat Jumat. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab, hanya bekal takwalah yang akan menyelamatkan kita, baik dalam kehidupan di dunia yang fana ini maupun di akhirat yang kekal abadi kelak. Terlebih dalam membangun bahtera rumah tangga, ketakwaan adalah fondasi utama agar kita tidak terombang-ambing oleh badai ujian zaman yang kian hari kian berat.

Hari ini, kita hidup di era yang penuh dengan dinamika. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang serba cepat, di mana media sosial menjadi cermin sekaligus panggung kehidupan, tantangan dalam menjaga keharmonisan keluarga menjadi semakin nyata. Banyak di antara kita yang mungkin merasa lelah dengan tuntutan pekerjaan, lalu pulang ke rumah namun tidak menemukan ketenangan. Banyak pula yang terjebak dalam perbandingan semu di layar ponsel, hingga lupa mensyukuri apa yang ada di depan mata. Oleh karena itu, tema khotbah kita pada siang hari ini adalah "Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah" sebagai upaya kita kembali ke jalan Allah dalam membina rumah tangga.

2. Isi Materi

Membangun Fondasi Sakinah di Tengah Hiruk-Pukuk Dunia

Poin pertama yang harus kita pahami adalah makna dari Sakinah. Sakinah berasal dari akar kata sakana yang berarti tenang, diam, atau tempat tinggal. Dalam konteks keluarga, sakinah bukan sekadar tidak adanya konflik, melainkan adanya ketenangan jiwa yang Allah tanamkan ke dalam hati pasangan suami istri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21).

Penjelasan dari ayat ini sangat mendalam. Allah menyebutkan bahwa tujuan diciptakannya pasangan adalah litaskunu ilaiha, agar kalian merasa tenang kepadanya. Di masyarakat perkotaan yang penuh dengan tekanan mental, kemacetan, dan target pekerjaan yang melelahkan, rumah seharusnya menjadi pelabuhan terakhir tempat hati beristirahat. Sakinah tidak datang dari kemewahan perabotan rumah atau luasnya bangunan, melainkan dari kedekatan spiritual kepada Allah. Jika suami dan istri sama-sama menjaga salatnya, menjaga zikirnya, dan menjaga pandangannya, maka Allah akan menurunkan ketenangan tersebut ke dalam rumah mereka.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menjadikan rumah sebagai tempat ibadah. Jangan biarkan rumah kita seperti kuburan yang sepi dari lantunan Al-Qur'an. Ketika suami pulang kerja dalam keadaan lelah, sambutan hangat dan senyuman istri adalah sumber sakinah. Sebaliknya, ketika istri merasa jenuh dengan urusan rumah tangga, pengertian dan bantuan suami adalah penyejuk hati. Di era media sosial, hindarilah kebiasaan "curhat" masalah rumah tangga di status WhatsApp atau Instagram. Masalah rumah tangga adalah rahasia yang harus dijaga. Menyebarkannya hanya akan mengundang fitnah dan menghilangkan keberkahan serta ketenangan (sakinah) itu sendiri.

Hikmah dari poin ini adalah bahwa keluarga yang sakinah akan melahirkan individu-individu yang tangguh secara mental. Anak-anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang tenang dan penuh kedamaian akan memiliki kepercayaan diri yang baik dan akhlak yang mulia. Sebaliknya, rumah yang penuh dengan pertengkaran dan kegaduhan hanya akan menjadi beban psikologis bagi penghuninya. Mari kita jadikan rumah kita sebagai Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku, dengan cara mengundang Allah hadir dalam setiap aktivitas di dalamnya.

Merawat Mawaddah dan Rahmah di Era Digital

Poin kedua adalah memahami perbedaan serta urgensi Mawaddah dan Rahmah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Mawaddah adalah cinta yang menggebu, cinta yang didasari oleh aspek fisik dan kesenangan duniawi, yang biasanya dominan di awal pernikahan. Sedangkan Rahmah adalah kasih sayang yang lebih dalam, yang muncul dari rasa iba, pengorbanan, dan ketulusan, yang tetap bertahan meskipun kecantikan telah pudar atau kekuatan fisik telah berkurang.

Rasulullah SAW memberikan teladan yang luar biasa dalam merawat kasih sayang ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi no. 3895).

Di zaman sekarang, tantangan terbesar bagi Mawaddah dan Rahmah adalah gangguan digital. Seringkali kita berada di satu ruangan yang sama, duduk di satu meja makan yang sama, namun masing-masing sibuk dengan ponselnya. Suami asyik dengan grup hobi atau berita politik, sementara istri asyik dengan belanja online atau melihat kehidupan orang lain di media sosial. Hal ini perlahan-lahan mengikis rasa kasih sayang karena hilangnya komunikasi yang berkualitas (quality time). Kita lebih sering memberikan "like" pada unggahan orang asing daripada memberikan apresiasi langsung kepada pasangan kita sendiri.

Contoh aplikatifnya adalah dengan membuat kesepakatan "bebas gadget" saat berada di meja makan atau sebelum tidur. Gunakan waktu tersebut untuk saling bercerita, saling mendengar, dan saling memberikan perhatian. Tunjukkan Mawaddah dengan memberikan pujian atas masakan istri atau usaha suami dalam mencari nafkah. Tunjukkan Rahmah dengan saling memaafkan kesalahan kecil dan tidak membesar-besarkan kekurangan pasangan. Ingatlah bahwa apa yang kita lihat di media sosial tentang "keluarga sempurna" orang lain seringkali hanyalah potongan kecil yang sudah difilter. Jangan biarkan standar semu di internet merusak rasa syukur atas pasangan yang Allah berikan kepada kita.

Hikmah dari merawat Mawaddah dan Rahmah ini adalah terciptanya ikatan yang tidak mudah retak oleh ujian ekonomi atau godaan pihak ketiga. Ketika cinta didasari karena Allah (Rahmah), maka kekurangan pasangan tidak akan menjadi alasan untuk berpisah, melainkan menjadi ladang pahala untuk saling melengkapi. Keluarga yang penuh kasih sayang akan menjadi benteng terkuat dari pengaruh buruk lingkungan luar yang kian bebas.

Menjalankan Mu’asyarah bil Ma’ruf sebagai Kewajiban Syar’i

Poin ketiga adalah pentingnya menerapkan prinsip Mu’asyarah bil Ma’ruf, yaitu bergaul dengan cara yang baik dan patut dalam kehidupan rumah tangga. Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual, tetapi sangat detail dalam mengatur etika hubungan suami istri. Hak dan kewajiban harus dijalankan bukan karena paksaan hukum, melainkan karena kesadaran bahwa hal tersebut adalah perintah Allah yang bernilai ibadah.

Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 19:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

Artinya: "Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa: 19).

Ayat ini secara khusus memerintahkan para suami untuk memperlakukan istri dengan cara yang makruf (baik). Makruf mencakup tutur kata yang lembut, pemberian nafkah yang halal sesuai kemampuan, serta pemberian perlindungan dan rasa aman. Bagi masyarakat perkotaan yang sering terpapar budaya individualisme, prinsip ini sangat penting. Suami bukan sekadar "mesin pencari uang", dan istri bukan sekadar "pengelola rumah tangga". Keduanya adalah mitra dalam ketaatan.

Contoh aplikatif dari Mu’asyarah bil Ma’ruf adalah keterbukaan dalam masalah keuangan dan pengambilan keputusan. Di tengah biaya hidup perkotaan yang tinggi, suami dan istri harus saling terbuka dan bekerja sama dalam mengatur anggaran rumah tangga tanpa ada yang merasa paling berkuasa. Selain itu, hindarilah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik secara fisik maupun verbal. Kata-kata kasar atau merendahkan pasangan di depan anak-anak atau di media sosial adalah pelanggaran berat terhadap prinsip makruf ini. Rasulullah SAW tidak pernah sekalipun memukul istrinya, bahkan beliau sering membantu pekerjaan rumah tangga untuk meringankan beban istrinya.

Hikmah dari menjalankan prinsip ini adalah lahirnya rasa saling menghargai (mutual respect). Ketika suami menghargai lelahnya istri mengurus rumah, dan istri menghargai peluh keringat suami mencari nafkah, maka keberkahan akan turun. Hubungan yang didasari prinsip makruf akan membuat rumah tangga terasa ringan meskipun beban hidup terasa berat. Ini adalah kunci agar rumah tangga tetap kokoh di tengah badai perceraian yang kian marak di kota-kota besar.

Menjadikan Keluarga sebagai Madrasah Pertama (Al-Madrasatul Ula)

Poin keempat dan terakhir adalah mewujudkan keluarga sebagai pusat pendidikan karakter dan iman bagi anak-anak. Keluarga sakinah bukan hanya tentang hubungan suami dan istri, tetapi juga tentang bagaimana melahirkan generasi yang saleh dan salehah. Di tengah gempuran konten negatif di internet dan pergaulan bebas di lingkungan perkotaan, peran orang tua sebagai pendidik utama tidak bisa digantikan oleh sekolah manapun.

Allah SWT mengingatkan kita dalam Surat At-Tahrim ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (QS. At-Tahrim: 6).

Menjaga keluarga dari api neraka berarti membekali mereka dengan iman dan ilmu agama yang cukup. Di era digital ini, orang tua harus melek teknologi namun tetap memegang teguh prinsip syariat. Kita tidak bisa melarang anak menggunakan gadget sepenuhnya, namun kita wajib mengawasi dan mengarahkan apa yang mereka tonton dan siapa yang mereka ikuti di dunia maya. Pendidikan agama di rumah bukan hanya soal menyuruh anak mengaji, tetapi memberikan teladan nyata. Anak akan lebih mudah mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya daripada apa yang dikatakan orang tuanya.

Contoh aplikatifnya adalah dengan membiasakan salat berjamaah di rumah atau di masjid terdekat. Luangkan waktu untuk membacakan kisah-kisah Nabi atau mendiskusikan nilai-nilai moral dari kejadian sehari-hari. Jadilah pendengar yang baik bagi anak-anak agar mereka tidak mencari pelarian kepada hal-hal negatif di luar rumah. Di masyarakat perkotaan yang sibuk, seringkali orang tua merasa sudah cukup mendidik anak dengan memasukkannya ke sekolah mahal atau les tambahan. Padahal, sentuhan kasih sayang dan nasihat langsung dari ayah dan ibu adalah nutrisi jiwa yang paling utama.

Hikmah dari menjadikan keluarga sebagai madrasah adalah kita sedang membangun investasi akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu amal yang tidak terputus pahalanya adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Dengan mendidik anak secara islami di tengah tantangan zaman, kita sedang memastikan bahwa kelak ada yang akan mendoakan kita saat kita sudah berada di alam barzakh. Keluarga yang sukses bukan hanya yang sukses secara finansial di dunia, tetapi yang berhasil berkumpul kembali di surga Allah SWT kelak.

3. Penutup

Hadirin Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita merenung sejenak. Keluarga adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah bukanlah sebuah proses instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan doa yang tiada putus. Di tengah gemerlap dan kerasnya kehidupan kota, jangan biarkan cahaya iman di rumah kita meredup.

Mari kita perbaiki komunikasi dengan pasangan, kita tingkatkan kualitas ibadah bersama, dan kita jaga anak-anak kita dari pengaruh buruk zaman. Ingatlah bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita pamerkan di media sosial, melainkan pada ketenangan hati saat kita bersujud bersama anggota keluarga di bawah naungan rida Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita, menguatkan ikatan pernikahan kita, dan menjadikan keluarga kita sebagai miniatur surga di dunia yang akan membawa kita menuju surga yang sesungguhnya di akhirat kelak.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْن.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan inilah yang akan menjadi bekal terbaik kita dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia menuju akhirat yang kekal abadi.

2. Isi Singkat

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Melalui mimbar yang mulia ini, kami kembali menegaskan betapa pentingnya menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. Keluarga bukan sekadar unit terkecil dalam masyarakat, melainkan madrasah pertama tempat nilai-nilai iman dan akhlak ditanamkan. Di tengah gempuran arus digital yang seringkali menjauhkan yang dekat, marilah kita kembali menghidupkan ruh mu’asyarah bil ma’ruf—berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kasih sayang, dan saling menghargai antara suami, istri, dan anak-anak.

Jadikanlah rumah-rumah kita sebagai tempat yang tenang (sakinah), yang dipenuhi cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Jangan biarkan kesibukan duniawi dan gawai merampas waktu berkualitas kita bersama keluarga. Ingatlah bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, dan seorang kepala keluarga adalah pemimpin bagi keluarganya.

Sebagai penutup, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sebagaimana Allah SWT memerintahkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

3. Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا فِي ذُرِّيَّاتِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِيْنَا.

Ya Allah, perbaikilah keturunan kami dan berkahilah keluarga kami. Jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, yang senantiasa taat beribadah kepada-Mu.

Ya Allah, berikanlah kedamaian, kemakmuran, dan keselamatan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram, dan penuh keberkahan di bawah naungan ampunan-Mu.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.