Khotbah Jumat · Ibadah · 16 September 2026

Menghidupkan Sunnah Rasulullah di Hari Jumat

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

Innalhamdalillah, nahmaduhu wanasta'inuhu wanastaghfiruh, wana'udzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a'malina. Mayyahdihillahu fala mudhillalah, wamayyudhlilhu fala hadiyalah.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh, la nabiyya ba'dah.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'd.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi. Karena sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa menghadap Allah kelak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari Jumat adalah penghulu segala hari, hari yang penuh berkah dan kemuliaan. Pada hari ini, Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita berbagai amalan sunnah yang dapat kita hidupkan pada hari Jumat ini, sebagai bentuk kecintaan kita kepada beliau dan upaya kita meraih ridha Allah. Mengamalkan sunnah-sunnah ini bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan sebuah manifestasi dari keimanan, ketaatan, dan keinginan kita untuk meneladani sebaik-baik manusia. Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan dan derasnya arus informasi di media sosial, terkadang kita lalai atau bahkan melupakan amalan-amalan sederhana namun penuh makna ini. Oleh karena itu, pada kesempatan khotbah yang mulia ini, marilah kita bersama-sama merenungkan dan bertekad untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di hari Jumat, agar keberkahan senantiasa menyertai langkah hidup kita.

2. Isi Materi

Mandi Jumat dan Berhias Diri: Kesucian Lahir dan Batin

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Salah satu sunnah yang sangat ditekankan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di hari Jumat adalah mandi dan berhias diri. Ini bukan sekadar anjuran kebersihan biasa, melainkan sebuah persiapan spiritual yang mendalam sebelum menghadap Allah dalam ibadah Jumat. Mandi Jumat adalah mandi besar, sebagaimana mandi junub, yang membersihkan seluruh tubuh dari hadas dan kotoran. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah, lalu ia pergi (ke masjid) pada waktu yang pertama, maka seakan-akan ia berkurban seekor unta. Barangsiapa pergi pada waktu yang kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi. Barangsiapa pergi pada waktu yang ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor kambing yang bertanduk. Barangsiapa pergi pada waktu yang keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam. Barangsiapa pergi pada waktu yang kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (untuk berkhutbah), maka para malaikat hadir mendengarkan khutbah." (HR. Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)

Hadits ini dengan jelas menunjukkan betapa besar pahala yang dijanjikan bagi mereka yang melaksanakan mandi Jumat. Lebih dari sekadar membersihkan fisik, mandi Jumat adalah simbol kesiapan kita untuk membersihkan diri dari segala kotoran dosa dan kekhilafan, menyucikan hati, dan mempersiapkan jiwa untuk menerima cahaya hidayah. Setelah mandi, kita dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik yang kita miliki, yang bersih dan rapi, serta menggunakan wewangian (parfum) yang tidak berlebihan. Ini adalah bentuk penghormatan kita terhadap hari Jumat dan terhadap majelis ilmu di masjid, serta bentuk pengagungan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dalam konteks kehidupan perkotaan yang serba cepat dan seringkali menuntut kita untuk selalu tampil prima di hadapan manusia, sunnah ini mengajarkan kita untuk juga tampil prima di hadapan Allah. Contoh aplikatifnya, jadikan pagi Jumat sebagai waktu khusus untuk merawat diri secara spiritual dan fisik. Bangun lebih awal, niatkan mandi Jumat, lalu kenakan pakaian terbaik yang biasa kita simpan untuk acara-acara penting. Jangan lupa memakai wewangian yang halal. Bagi sebagian dari kita yang mungkin sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas lain, bisa merencanakan untuk mandi Jumat sebelum berangkat kerja jika memungkinkan, atau setidaknya memastikan diri sudah bersih dan rapi sebelum menuju masjid. Libatkan juga keluarga, ajak anak-anak untuk mandi dan memakai pakaian terbaik mereka, tanamkan sejak dini bahwa hari Jumat adalah hari istimewa yang harus disambut dengan persiapan terbaik.

Hikmah dari sunnah ini sangatlah mendalam. Pertama, ia menumbuhkan rasa syukur atas nikmat kebersihan dan kesehatan yang Allah berikan. Kedua, ia melatih kedisiplinan diri untuk menyambut ibadah dengan persiapan yang matang, bukan sekadar asal-asalan. Ketiga, ia meningkatkan rasa percaya diri dan kenyamanan saat beribadah, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain di sekitar kita. Keempat, dan yang terpenting, ia adalah bentuk pengagungan kita terhadap syiar Islam, menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah adalah prioritas utama yang layak mendapatkan perlakuan terbaik dari kita. Dengan kesucian lahir dan batin, hati kita akan lebih lapang dan siap menerima ilmu serta keberkahan yang diturunkan pada hari Jumat.

Bersegera Menuju Masjid dan Shalat Sunnah: Menghargai Waktu dan Tempat Ibadah

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sunnah berikutnya yang tak kalah penting adalah bersegera menuju masjid. Di era modern ini, dengan segala kemudahan transportasi, seringkali kita tergoda untuk menunda keberangkatan hingga mendekati waktu khotbah. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menganjurkan kita untuk datang lebih awal, bahkan sejak pagi hari. Hadits yang telah saya sebutkan sebelumnya tentang pahala berkurban unta, sapi, kambing, ayam, hingga telur, secara eksplisit menggambarkan keutamaan datang di awal waktu. Malaikat-malaikat pencatat amal akan menutup buku catatan mereka begitu imam naik mimbar, sehingga mereka yang datang terlambat akan kehilangan kesempatan untuk dicatat sebagai orang-orang yang mendapatkan pahala berlipat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila hari Jumat tiba, di setiap pintu masjid ada malaikat yang mencatat orang-orang yang datang pertama dan seterusnya. Orang yang datang pertama seperti berkurban unta, yang kedua seperti berkurban sapi, yang ketiga seperti berkurban kambing, yang keempat seperti berkurban ayam, yang kelima seperti berkurban telur. Apabila imam telah duduk di mimbar, maka lembaran-lembaran catatan itu ditutup dan mereka (malaikat) ikut mendengarkan khutbah." (HR. Bukhari no. 929 dan Muslim no. 850)

Selain itu, ketika kita tiba di masjid, janganlah langsung duduk. Laksanakanlah shalat sunnah Tahiyatul Masjid dua rakaat sebagai bentuk penghormatan kita kepada rumah Allah. Ini adalah adab yang diajarkan oleh Nabi, bahkan jika khotbah sudah dimulai, kita tetap dianjurkan untuk shalat Tahiyatul Masjid secara ringkas sebelum duduk.

Bagi kita yang hidup di perkotaan dengan segala kesibukan dan kemacetannya, sunnah ini mungkin terasa menantang. Namun, ini adalah ujian bagi prioritas kita. Contoh aplikatifnya, rencanakan jadwal Jumat Anda dengan matang. Jika biasanya Anda berangkat 15 menit sebelum adzan, cobalah untuk berangkat 30-45 menit lebih awal. Manfaatkan waktu luang sebelum khotbah untuk berdzikir, membaca Al-Qur'an, atau shalat sunnah. Hindari bermain gawai atau mengobrol yang tidak perlu. Jika Anda memiliki janji atau pekerjaan yang mendesak, usahakan untuk menyelesaikannya sebelum waktu Jumat tiba, atau setidaknya atur agar tidak bentrok dengan waktu keberangkatan ke masjid. Ingatlah bahwa setiap langkah kaki menuju masjid adalah pahala, setiap detik yang dihabiskan di dalamnya adalah investasi akhirat.

Hikmah dari bersegera menuju masjid dan melaksanakan shalat sunnah adalah melatih kedisiplinan dan manajemen waktu kita. Ini menunjukkan penghargaan kita terhadap waktu ibadah dan tempat suci. Dengan datang lebih awal, kita mendapatkan tempat yang nyaman, terhindar dari keramaian, dan memiliki waktu untuk mempersiapkan diri secara mental dan spiritual sebelum mendengarkan khotbah. Kita juga terhindar dari melangkahi pundak jamaah lain yang sudah duduk, yang merupakan perbuatan yang tidak disukai. Lebih dari itu, datang awal dan shalat sunnah akan menumbuhkan ketenangan hati, menjauhkan kita dari ketergesa-gesaan, dan membuka pintu-pintu rahmat serta pahala yang berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Membaca Surah Al-Kahfi: Cahaya Petunjuk dan Perlindungan dari Fitnah

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sunnah lain yang sangat dianjurkan untuk diamalkan pada hari Jumat adalah membaca Surah Al-Kahfi. Surah ini memiliki keutamaan yang luar biasa, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim:

"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumat." (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/368, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6470)

Cahaya yang dimaksud dalam hadits ini bisa diartikan sebagai cahaya hidayah, cahaya petunjuk, atau perlindungan dari berbagai fitnah dan kegelapan hidup. Surah Al-Kahfi sendiri mengandung kisah-kisah penuh hikmah, seperti kisah Ashabul Kahfi, kisah Nabi Musa dan Khidir, kisah Dzulqarnain, serta peringatan tentang fitnah harta, kekuasaan, ilmu, dan fitnah Dajjal di akhir zaman. Membaca dan merenungkan isinya akan membentengi kita dari godaan dunia dan menguatkan iman kita.

Di tengah gempuran informasi dan berbagai fitnah yang tersebar luas di media sosial, membaca Surah Al-Kahfi menjadi sangat relevan. Fitnah Dajjal yang disebutkan dalam hadits adalah fitnah terbesar yang akan menimpa umat manusia, dan Surah Al-Kahfi adalah salah satu penangkalnya. Namun, fitnah tidak hanya datang di akhir zaman dalam wujud Dajjal. Fitnah bisa berupa godaan harta, kekuasaan, popularitas, atau bahkan informasi palsu yang menyesatkan di dunia maya. Dengan membaca Surah Al-Kahfi, kita diingatkan akan hakikat kehidupan, pentingnya tawakal kepada Allah, dan bahaya kesombongan serta kelalaian.

Contoh aplikatifnya, alokasikan waktu khusus di hari Jumat untuk membaca Surah Al-Kahfi. Anda bisa membacanya setelah shalat Subuh, di sela-sela aktivitas pagi, saat istirahat makan siang, atau bahkan setelah shalat Ashar menjelang Maghrib. Manfaatkan aplikasi Al-Qur'an di ponsel Anda, atau bawa mushaf kecil. Jika Anda memiliki waktu, cobalah untuk membaca terjemahannya dan merenungkan makna setiap ayat. Ajak keluarga Anda untuk membaca bersama, atau bacakan untuk anak-anak Anda agar mereka terbiasa dengan sunnah ini dan memahami pesan-pesan mulia di dalamnya. Jadikan membaca Al-Kahfi sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas Jumat Anda, bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan.

Hikmah dari membaca Surah Al-Kahfi adalah kita akan mendapatkan cahaya petunjuk dari Allah, yang akan menerangi jalan hidup kita dan membimbing kita dalam menghadapi berbagai tantangan dan fitnah. Ia juga menjadi benteng spiritual yang melindungi kita dari godaan dunia dan tipu daya setan. Dengan merenungkan kisah-kisah di dalamnya, kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, keadilan, dan kekuatan iman. Ini akan memperkuat keyakinan kita kepada Allah, menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, dan memotivasi kita untuk senantiasa berada di jalan yang lurus, insya Allah.

Memperbanyak Shalawat dan Doa: Mengingat Rasulullah dan Memanfaatkan Waktu Mustajab

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari Jumat adalah hari yang istimewa untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

"Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat. Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 3/249, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1209)

Selain memperbanyak shalawat, hari Jumat juga memiliki waktu-waktu mustajab untuk berdoa, di mana doa-doa kita lebih besar kemungkinannya untuk dikabulkan oleh Allah. Salah satu waktu yang paling ditekankan adalah di akhir waktu setelah Ashar hingga terbenam matahari. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Pada hari Jumat itu ada dua belas jam. Tidak ada seorang hamba muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah pada waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka carilah ia di akhir waktu setelah Ashar." (HR. Abu Daud no. 1048 dan An-Nasa'i no. 1389, dishahihkan oleh Al-Albani)

Dalam kehidupan kita yang serba sibuk dan penuh distraksi, terutama dengan keberadaan media sosial yang seringkali menyita perhatian, sunnah ini mengingatkan kita untuk tetap terhubung dengan Rasulullah dan dengan Allah. Memperbanyak shalawat adalah bentuk cinta, penghormatan, dan pengakuan kita atas jasa-jasa beliau dalam menyampaikan risalah Islam. Setiap shalawat yang kita ucapkan akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh kali shalawat, sebuah balasan yang tak terhingga nilainya.

Contoh aplikatifnya, jadikan shalawat sebagai dzikir lisan yang ringan namun berkelanjutan sepanjang hari Jumat. Saat dalam perjalanan, saat menunggu, saat istirahat, atau bahkan saat berselancar di media sosial, sisipkan shalawat. Anda bisa menggunakan aplikasi dzikir digital atau sekadar menghitung dengan jari. Kemudian, khususkan waktu setelah shalat Ashar di hari Jumat. Matikan notifikasi ponsel, jauhi segala bentuk gangguan, dan fokuslah untuk berdoa. Panjatkan segala hajat dan keinginan Anda kepada Allah, baik untuk urusan dunia maupun akhirat, untuk diri sendiri, keluarga, maupun umat Islam seluruhnya. Yakinlah bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa hamba-Nya.

Hikmah dari memperbanyak shalawat adalah menumbuhkan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang pada gilirannya akan memotivasi kita untuk lebih giat meneladani sunnah-sunnah beliau. Kita juga akan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak. Adapun hikmah dari memperbanyak doa di waktu mustajab adalah melatih kita untuk senantiasa bergantung kepada Allah, menumbuhkan optimisme, dan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta. Doa adalah senjata mukmin, dan di hari Jumat, Allah memberikan kita kesempatan emas untuk menggunakannya secara maksimal. Dengan shalawat dan doa, hati kita akan menjadi lebih tenang, jiwa kita akan merasa lebih damai, dan hidup kita akan senantiasa diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Penutup

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah beberapa sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sangat dianjurkan untuk kita hidupkan di hari Jumat. Mulai dari mandi dan berhias diri, bersegera menuju masjid dan shalat sunnah, membaca Surah Al-Kahfi, hingga memperbanyak shalawat dan doa. Semua amalan ini, meskipun terlihat sederhana, memiliki keutamaan dan hikmah yang luar biasa besar, yang akan membawa keberkahan dalam hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Mari kita jadikan hari Jumat bukan hanya sekadar hari libur atau hari biasa, melainkan hari istimewa yang kita sambut dengan penuh semangat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita bertekad untuk mengamalkan sunnah-sunnah ini secara istiqamah, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga kita ajarkan kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Semoga dengan menghidupkan sunnah Nabi, kita termasuk golongan umat yang mencintai beliau dan layak mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, agar kita dapat menjadi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan senantiasa istiqamah dalam menjalankan syariat-Nya.

Barakallahu li walakum fil Qur'anil Azhim, wanaf'ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz dzikril hakim. Taqabbalallahu minni wa minkum tilawatahu innahu huwas sami'ul alim.

Aqulu qauli hadza wastaghfirullahal azhim li walakum wali sa'iril muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur rahim.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita semua termasuk golongan hamba-Nya yang beruntung di dunia dan akhirat.

2. Isi Singkat

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada khotbah pertama tadi, kita telah diingatkan akan pentingnya menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, khususnya di hari Jumat yang penuh berkah ini. Sunnah-sunnah seperti mandi dan berhias diri, bersegera ke masjid, membaca Surah Al-Kahfi, serta memperbanyak shalawat dan doa, bukanlah sekadar amalan biasa. Ia adalah jalan untuk meraih keberkahan, petunjuk, dan perlindungan dari Allah SWT. Lebih dari itu, mengamalkan sunnah adalah wujud nyata kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus upaya kita untuk meneladani akhlak mulia beliau.

Maka dari itu, marilah kita jadikan hari Jumat ini sebagai momentum untuk memperbaharui komitmen kita dalam mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW. Setiap sunnah yang kita hidupkan adalah investasi kebaikan yang akan kembali kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan yang setulus-tulusnya." (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah kepada kita untuk senantiasa bershalawat kepada Nabi-Nya. Dengan bershalawat, kita tidak hanya menunjukkan kecintaan, tetapi juga memohon rahmat dan keberkahan bagi beliau, yang pada gilirannya akan kembali kepada kita. Oleh karena itu, mari kita perbanyak shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

3. Doa Penutup

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Tinggikanlah kalimat-Mu, dan tolonglah mereka yang menolong agama-Mu. Hancurkanlah musuh-musuh agama-Mu.

Ya Allah, lindungilah negeri kami Indonesia dari segala marabahaya, bencana, fitnah, dan perpecahan. Jadikanlah ia negeri yang aman, makmur, adil, dan sentosa, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.

Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul alim, wa tub 'alaina innaka antat tawwabur rahim.

Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun, wa salamun 'alal mursalin, walhamdulillahi rabbil 'alamin.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.