Khotbah Jumat · Tazkiyatun Nufus & Kesehatan Mental · 22 September 2026

Mengobati Penyakit Hati: Dengki, Riya, dan Ujub

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, Sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam yang tak henti-hentinya mengucurkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat sehat, nikmat waktu luang, dan yang paling utama adalah nikmat iman serta Islam yang masih kokoh bersemayam di dalam dada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang mulia ini, di hari yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab, hanya bekal takwalah yang akan menyelamatkan kita, baik di dunia yang fana ini maupun di akhirat yang kekal abadi kelak.

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern saat ini, khususnya bagi kita yang hidup di wilayah perkotaan dengan ritme yang sangat cepat, seringkali kita terlalu fokus merawat kesehatan fisik dan penampilan lahiriah. Kita rajin berolahraga, menjaga pola makan, dan memastikan pakaian kita tampak rapi di depan orang lain. Namun, ada satu hal yang seringkali luput dari perhatian kita, yaitu kesehatan hati. Padahal, hati adalah pusat kendali seluruh amal perbuatan manusia. Jika hatinya sehat, maka sehatlah seluruh perilakunya. Namun jika hati itu sakit, maka akan rusaklah seluruh sendi kehidupannya.

Hari ini, kita hidup di era digital di mana media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Di satu sisi, ia memudahkan komunikasi, namun di sisi lain, ia menjadi ladang subur bagi tumbuhnya penyakit-penyakit hati yang mematikan. Dengki, riya, dan ujub adalah tiga penyakit hati yang paling sering menjangkiti manusia modern. Oleh karena itu, melalui khotbah ini, mari kita merenung sejenak, mendiagnosa diri kita masing-masing, dan mencari obat penawarnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.

2. Isi Materi

Poin pertama: Bahaya Penyakit Hasad (Dengki) di Era Digital

Penyakit hati pertama yang sangat berbahaya adalah hasad atau dengki. Hasad adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat dan ada keinginan agar nikmat tersebut hilang dari orang tersebut. Allah SWT telah memperingatkan kita dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nisa: 32).

Dalam kehidupan masyarakat perkotaan saat ini, hasad seringkali dipicu oleh apa yang kita lihat di layar ponsel kita. Saat kita membuka media sosial, kita melihat teman kita mengunggah foto liburan mewah, kendaraan baru, atau kesuksesan karier mereka. Tanpa sadar, muncul rasa sesak di dada. Kita mulai membandingkan hidup kita yang terasa biasa-biasa saja dengan hidup orang lain yang tampak sempurna di media sosial. Inilah benih hasad. Kita merasa Allah tidak adil, atau kita merasa orang tersebut tidak layak mendapatkan nikmat itu.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai bahaya hasad ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud: "Waspadalah kalian terhadap hasad (iri hati), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Daud). Bayangkan, kita sudah lelah shalat, berpuasa, dan bersedekah, namun pahala itu habis terbakar hanya karena kita memelihara rasa iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada tetangga atau rekan kerja kita.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika kita melihat rekan kantor mendapatkan promosi jabatan. Alih-alih mengucapkan selamat dan ikut berbahagia, kita justru mencari-cari kesalahannya atau menyebarkan gosip bahwa dia mendapatkan jabatan itu karena "cari muka". Inilah hasad yang nyata. Hikmah dari menjauhi hasad adalah ketenangan batin. Orang yang hasad tidak akan pernah merasa tenang karena dia selalu sibuk memikirkan nikmat orang lain. Dengan menjauhi hasad, kita akan belajar untuk qana’ah, merasa cukup dengan apa yang ada, dan menyadari bahwa setiap orang sudah memiliki porsi rezekinya masing-masing yang telah diatur oleh Allah Yang Maha Adil.

Poin kedua: Riya dan Jebakan Validasi Manusia

Penyakit hati kedua yang sangat halus namun mematikan adalah riya. Riya adalah melakukan suatu amal ibadah atau kebaikan dengan tujuan untuk dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan semata-mata karena Allah SWT. Di era "selfie" dan "update status" seperti sekarang, riya menjadi tantangan yang luar biasa berat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 4-6:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Artinya: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya." (QS. Al-Ma'un: 4-6).

Ayat ini sangat menggetarkan hati. Bahkan orang yang shalat pun bisa celaka jika di dalam shalatnya terselip rasa riya. Dalam konteks masyarakat urban, riya seringkali mewujud dalam bentuk haus akan validasi. Kita bersedekah, lalu kita foto dan kita unggah agar orang tahu betapa dermawannya kita. Kita pergi umrah, namun fokus kita lebih banyak pada sudut pengambilan gambar yang bagus untuk konten daripada kekhusyukan ibadah di depan Ka'bah. Kita merasa puas jika jumlah "likes" dan komentar pujian membanjiri unggahan kita, namun merasa sedih jika amal kita tidak diketahui orang.

Rasulullah SAW menyebut riya sebagai syirik ashghar atau syirik kecil. Beliau bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Riya." (HR. Ahmad). Riya merusak kemurnian tauhid kita karena kita menjadikan pujian manusia sebagai tandingan bagi keridhaan Allah. Kita seolah-olah berkata bahwa penilaian manusia lebih penting daripada penilaian Sang Pencipta.

Contoh aplikatifnya adalah saat kita berada di masjid. Kita memperlama sujud atau memperindah bacaan Al-Qur'an hanya karena kita tahu ada orang lain yang sedang memperhatikan kita. Atau dalam lingkungan kerja, kita bekerja keras hanya saat ada atasan, namun bersantai-santai saat tidak diawasi. Hikmah dari mengobati riya adalah keikhlasan. Ikhlas akan membebaskan kita dari perbudakan opini manusia. Orang yang ikhlas tidak akan terbang karena pujian dan tidak akan tumbang karena cacian. Dia hanya fokus pada satu hal: "Apakah Allah ridha dengan apa yang aku lakukan?" Inilah puncak kemerdekaan jiwa seorang mukmin.

Poin ketiga: Ujub dan Bahaya Merasa Lebih Suci

Penyakit hati ketiga yang sering menghinggapi orang-orang yang sudah mulai aktif beribadah adalah ujub. Ujub adalah perasaan kagum terhadap diri sendiri, merasa memiliki kelebihan, atau merasa diri lebih suci dan lebih baik daripada orang lain tanpa menyandarkan nikmat tersebut kepada Allah. Jika riya membutuhkan penonton, maka ujub bisa terjadi meskipun kita sendirian. Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Najm ayat 32:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Artinya: "...Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32).

Bagi masyarakat perkotaan yang memiliki akses luas terhadap ilmu agama melalui kajian-kajian atau media sosial, penyakit ujub ini sangat rawan. Seringkali, setelah kita mengikuti satu atau dua kajian, kita mulai merasa lebih paham agama dibandingkan orang lain. Kita mulai memandang rendah orang yang belum berhijab, memandang remeh orang yang belum bisa ke masjid, atau merasa diri kita adalah ahli surga sementara orang lain adalah ahli neraka. Kita lupa bahwa hidayah adalah milik Allah, dan posisi kita hari ini semata-mata karena rahmat-Nya, bukan karena kehebatan kita.

Rasulullah SAW bersabda: "Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri (ujub)." (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi). Ujub adalah pintu gerbang menuju kesombongan. Iblis terusir dari surga bukan karena dia tidak beribadah, tapi karena dia ujub dan sombong, merasa dirinya lebih baik daripada Nabi Adam AS karena diciptakan dari api.

Contoh aplikatifnya adalah ketika kita merasa bangga dengan kesuksesan bisnis kita dan menganggap itu murni karena kecerdasan serta kerja keras kita sendiri, tanpa melibatkan peran Allah di dalamnya. Atau ketika kita merasa paling benar dalam beragama sehingga mudah menyalahkan dan menyesatkan orang lain yang berbeda pendapat. Hikmah dari membuang sifat ujub adalah sifat tawadhu atau rendah hati. Dengan menyadari bahwa semua kelebihan kita adalah titipan Allah yang bisa diambil kapan saja, kita akan tetap membumi. Kita akan melihat orang lain dengan pandangan kasih sayang, bukan pandangan merendahkan. Kita akan menyadari bahwa di atas langit masih ada langit, dan hanya Allah-lah Yang Maha Sempurna.

Poin keempat: Tazkiyatun Nufus sebagai Obat Penawar Hati

Setelah kita mengenali penyakit-penyakit tersebut, lantas bagaimana cara mengobatinya? Islam menawarkan konsep Tazkiyatun Nufus atau penyucian jiwa. Langkah pertama adalah dengan senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Sebelum tidur, tanyakan pada hati kita: "Adakah hari ini aku merasa iri? Adakah aku beramal karena ingin dipuji? Adakah aku merasa lebih baik dari orang lain?" Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Obat paling mujarab untuk penyakit hati adalah dzikir dan mengingat Allah. Ketika hati dipenuhi dengan asma Allah, maka tidak akan ada ruang bagi dengki, riya, dan ujub. Untuk mengobati hasad, kita harus banyak bersyukur dan mendoakan kebaikan bagi orang yang kita irii. Untuk mengobati riya, kita harus melatih diri untuk melakukan amal-amal rahasia (amal sirri) yang tidak diketahui siapapun kecuali Allah, seperti sedekah sembunyi-sembunyi atau shalat tahajud di saat orang lain terlelap. Untuk mengobati ujub, kita harus sering mengingat dosa-dosa kita dan menyadari betapa banyaknya aib kita yang masih ditutupi oleh Allah SWT.

Dalam konteks kehidupan perkotaan yang penuh tekanan, kita perlu melakukan "digital detox" atau membatasi penggunaan media sosial jika dirasa mulai merusak kesehatan mental dan hati kita. Gunakanlah teknologi untuk menyebarkan kebaikan, bukan untuk memamerkan kemegahan. Ingatlah bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Segala apa yang kita miliki, baik itu harta, jabatan, maupun popularitas, semuanya akan kita tinggalkan. Yang akan kita bawa menghadap Allah hanyalah qalbun salim, hati yang selamat dan bersih dari kotoran-kotoran penyakit hati.

Contoh aplikatifnya adalah dengan membiasakan diri melihat ke bawah dalam urusan duniawi agar kita pandai bersyukur, dan melihat ke atas dalam urusan ukhrawi agar kita semangat beribadah tanpa merasa sudah cukup. Hikmah dari penyucian jiwa ini adalah lahirnya ketenangan hidup yang sejati. Orang yang hatinya bersih tidak akan mudah stres oleh tekanan sosial, tidak akan haus akan pujian semu, dan tidak akan merasa terbebani oleh kesuksesan orang lain. Ia akan hidup dengan penuh kedamaian karena fokus utamanya adalah mencari ridha Allah SWT, bukan ridha manusia.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sebagai penutup khotbah pertama ini, marilah kita menyadari bahwa hati adalah aset paling berharga yang kita miliki. Di hari kiamat nanti, harta dan anak-anak tidak akan memberi manfaat sedikit pun, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Penyakit dengki, riya, dan ujub adalah racun yang bisa merusak kebahagiaan kita di dunia dan menghancurkan pahala kita di akhirat.

Marilah kita memohon kepada Allah SWT agar Dia senantiasa menjaga hati kita, membersihkannya dari segala noda, dan menghiasinya dengan cahaya iman, ikhlas, dan tawadhu. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga kejernihan hati di tengah keruhnya fitnah dunia, sehingga kelak kita dapat kembali kepada-Nya dalam keadaan jiwa yang tenang dan diridhai.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (سورة الأحزاب: ٥٦)

2. Isi Singkat

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Melalui mimbar yang mulia ini, kami kembali berwasiat kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjaga hati kita dari segala penyakit yang dapat membinasakan pahala amal ibadah kita.

Sebagaimana telah diuraikan pada khotbah pertama, penyakit hati seperti dengki (hasad), pamer (riya), dan bangga diri (ujub) adalah musuh yang nyata bagi keimanan kita. Di era digital dan media sosial saat ini, godaan untuk memamerkan amal dan mencari pujian manusia menjadi sangat besar. Namun, ingatlah bahwa Allah SWT hanya menerima amal yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita terus melakukan tazkiyatun nufus atau penyucian jiwa. Mari kita obati hati kita dengan memperbanyak rasa syukur atas nikmat orang lain agar terhindar dari hasad, menyembunyikan amal kebaikan agar terhindar dari riya, dan senantiasa menyadari bahwa segala kelebihan yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah agar kita terhindar dari sifat ujub. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita agar tetap istiqamah dalam keikhlasan hingga akhir hayat kita.

3. Doa Penutup

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Bersihkanlah hati kami dari sifat hasad, riya, ujub, dan sombong. Karuniakanlah kepada kami hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan keikhlasan dalam setiap amal ibadah kami.

Ya Allah, berikanlah keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Jadikanlah negeri kami negeri yang aman, makmur, dan penuh ampunan-Mu. Pilihlah bagi kami pemimpin-pemimpin yang mencintai rakyatnya dan takut kepada-Mu.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.