Khotbah Jumat · Sains, Teknologi & Peradaban · 25 September 2026

Bijak Menyaring Informasi: Menghindari Fitnah dan Hoaks

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan Semesta Alam yang tak henti-hentinya mengucurkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan yang memungkinkan kita melangkahkan kaki menuju rumah Allah yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Di atas mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan yang tidak hanya tampak di dalam masjid, namun juga terpancar dalam interaksi kita sehari-hari, termasuk dalam cara kita berkomunikasi dan berinteraksi di dunia digital yang saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.

Hari ini, kita hidup di era di mana informasi mengalir deras seperti air bah. Teknologi telah mengubah genggaman tangan kita menjadi jendela dunia. Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan ujian yang besar bagi keimanan kita. Fitnah, hoaks, dan adu domba seringkali menyamar di balik layar ponsel kita. Oleh karena itu, tema khotbah kita pada siang hari ini adalah "Bijak Menyaring Informasi: Menghindari Fitnah dan Hoaks" sebagai upaya kita menjaga peradaban dan keselamatan iman di era digital.

2. Isi Materi

Prinsip Tabayyun sebagai Fondasi Informasi

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Poin pertama yang harus kita tanamkan dalam jiwa kita adalah prinsip tabayyun atau verifikasi. Di zaman yang serba cepat ini, seringkali jempol kita lebih cepat bergerak daripada akal sehat kita. Begitu menerima pesan yang bombastis atau berita yang menyulut emosi, kita cenderung langsung membagikannya tanpa memeriksa kebenarannya. Padahal, Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini adalah protokol langit dalam mengelola informasi. Allah menyebut pembawa berita yang tidak jelas kebenarannya sebagai orang "fasik". Mengapa demikian? Karena berita bohong memiliki daya rusak yang luar biasa. Penjelasan dari ayat ini mengajarkan kita bahwa informasi bukan sekadar deretan kata, melainkan amanah. Ketika kita menerima sebuah informasi, terutama yang menyangkut kehormatan orang lain atau kemaslahatan umum, kewajiban pertama kita bukanlah menyebarkannya, melainkan melakukan check and re-check.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan masyarakat perkotaan saat ini adalah ketika kita menerima pesan berantai di grup WhatsApp keluarga atau kantor tentang aib seseorang, kebijakan pemerintah yang belum jelas, atau isu SARA yang provokatif. Sebelum menekan tombol "forward", tanyakan pada diri sendiri: Apakah berita ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah sumbernya kredibel? Jika kita ragu, maka diam adalah emas. Jangan sampai kita menjadi penyambung lidah fitnah yang merusak reputasi saudara kita sendiri.

Hikmah dari penerapan tabayyun ini sangatlah besar. Pertama, kita akan terhindar dari rasa penyesalan yang mendalam. Banyak hubungan persaudaraan hancur, banyak rumah tangga retak, dan banyak kerusuhan terjadi hanya karena satu informasi salah yang tidak diverifikasi. Dengan tabayyun, kita menjaga kedamaian hati dan keharmonisan sosial. Kita menjadi pribadi yang tenang, tidak mudah diprovokasi, dan memiliki integritas di mata manusia serta di hadapan Allah SWT.

Bahaya Menjadi Pendusta karena Menyebarkan Setiap Berita

Poin kedua yang perlu kita renungkan adalah bahaya lisan dan tulisan yang tidak terkendali. Dalam Islam, berdusta bukan hanya berarti mengarang cerita bohong secara sengaja, tetapi juga termasuk menceritakan atau menyebarkan setiap hal yang kita dengar tanpa menyaringnya. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: "Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar." (HR. Muslim).

Hadits ini sangat relevan dengan fenomena "copy-paste" dan "share" di media sosial saat ini. Banyak dari kita merasa tidak bersalah saat menyebarkan hoaks dengan alasan, "Saya hanya meneruskan pesan dari grup sebelah." Padahal, hadits di atas menegaskan bahwa dengan hanya meneruskan setiap apa yang didengar (atau dibaca) tanpa penyaringan, seseorang sudah cukup dikategorikan sebagai pendusta. Penjelasan mendalam dari hadits ini adalah bahwa seorang mukmin harus memiliki filter intelektual dan spiritual. Tidak semua yang kita dengar harus diceritakan, dan tidak semua yang kita tahu harus disebarkan.

Contoh aplikatifnya adalah ketika muncul berita kesehatan yang tidak berdasar secara medis, atau ramalan-ramalan yang menakut-nakuti masyarakat. Sebagai masyarakat urban yang terpelajar, kita seharusnya tidak menjadi agen penyebar ketakutan. Jika kita menerima informasi yang belum tervalidasi, meskipun isinya tampak "islami" atau "bermanfaat", namun jika sumbernya tidak jelas, maka menyebarkannya justru bisa menjerumuskan kita ke dalam dosa kedustaan. Berhenti di kita adalah sebuah prestasi moral.

Hikmah dari poin ini adalah terjaganya lisan dan jari-jari kita dari dosa jariyah. Bayangkan jika kita menyebarkan satu hoaks, lalu hoaks itu dibagikan oleh ratusan orang lainnya, maka dosa dari setiap kesalahpahaman dan kerugian yang ditimbulkan akan terus mengalir kepada kita. Dengan bersikap selektif, kita sedang menyelamatkan diri kita dari hisab yang berat di hari kiamat kelak. Kita belajar untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas setiap data yang keluar dari perangkat digital kita.

Etika Digital sebagai Cerminan Iman dan Akuntabilitas

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Poin ketiga adalah memahami bahwa aktivitas kita di dunia maya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Seringkali, saat berada di balik layar ponsel, seseorang merasa anonim dan bebas melakukan apa saja. Mereka merasa bisa mencaci, memfitnah, atau menyebarkan hoaks tanpa ada yang melihat. Namun, sebagai orang beriman, kita harus sadar bahwa pandangan Allah tidak pernah luput, dan setiap ketikan jempol kita dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36).

Ayat ini memberikan penjelasan bahwa setiap indra yang kita gunakan untuk mengonsumsi dan memproduksi informasi akan diaudit oleh Allah. Pendengaran kita saat menyimak video provokatif, penglihatan kita saat membaca berita fitnah, dan hati kita saat membenarkan kebencian, semuanya akan bersaksi. Di era peradaban teknologi ini, ayat ini adalah pengingat bahwa etika digital adalah bagian dari akhlakul karimah. Iman seseorang tidak hanya diukur dari panjangnya sujud, tetapi juga dari kehati-hatiannya dalam berkomentar di media sosial.

Contoh aplikatifnya adalah dalam penggunaan kolom komentar. Sebelum menuliskan komentar yang tajam, menghina, atau menyebarkan spekulasi yang belum tentu benar, ingatlah bahwa tulisan itu akan menjadi saksi di akhirat. Masyarakat perkotaan yang aktif bermedia sosial harus mampu menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang santun. Jika tidak bisa berkata baik atau memberikan informasi yang valid, maka diam adalah pilihan yang paling menyelamatkan. Gunakanlah media sosial untuk menebar inspirasi, ilmu yang bermanfaat, dan mempererat silaturahmi, bukan untuk memutusnya.

Hikmah dari kesadaran akan akuntabilitas ini adalah terbentuknya karakter muraqabah, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah. Hal ini akan melahirkan masyarakat digital yang beradab (civilized digital society). Ketika setiap individu merasa diawasi oleh Tuhan, maka hoaks akan mati dengan sendirinya karena tidak ada yang bersedia menjadi penyalurnya. Kita akan memiliki lingkungan digital yang sehat, yang mendukung pertumbuhan intelektual dan spiritual, bukan lingkungan yang penuh dengan polusi informasi dan kebencian.

Membangun Peradaban dengan Perkataan yang Benar (Qoulan Sadida)

Poin keempat atau yang terakhir adalah pentingnya membangun peradaban melalui Qoulan Sadida atau perkataan yang benar dan tepat sasaran. Teknologi dan sains yang kita miliki hari ini seharusnya digunakan untuk kemajuan peradaban, bukan untuk menghancurkannya melalui fitnah. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 70-71:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." (QS. Al-Ahzab: 70-71).

Penjelasan dari ayat ini menunjukkan adanya korelasi langsung antara kejujuran dalam berucap (termasuk dalam menyebarkan informasi) dengan kualitas amal kita secara keseluruhan. Allah menjanjikan bahwa jika kita berkomitmen pada kebenaran (Qoulan Sadida), maka Allah akan memperbaiki urusan-urusan kita yang lain. Sebaliknya, jika hidup kita dipenuhi dengan kebohongan dan fitnah, maka amal ibadah kita yang lain pun akan terancam rusak. Dalam konteks peradaban, informasi yang benar adalah fondasi bagi kemajuan bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai fakta dan kebenaran, bukan bangsa yang mudah diombang-ambingkan oleh hoaks.

Contoh aplikatifnya adalah peran kita sebagai agen penyejuk di tengah panasnya arus informasi. Di grup-grup media sosial, jadilah orang yang selalu membawa data valid dan kata-kata yang menenangkan. Jika ada teman atau kerabat yang menyebarkan hoaks, tegurlah dengan cara yang santun secara pribadi (japri), bukan mempermalukannya di depan umum. Ajaklah mereka untuk kembali kepada literasi yang sehat. Dengan cara ini, kita sedang melakukan ishlah atau perbaikan di tengah masyarakat. Kita menggunakan teknologi untuk menyambung hati, bukan memisahkan raga.

Hikmah dari komitmen pada perkataan yang benar ini adalah turunnya keberkahan dari Allah SWT. Ketika sebuah masyarakat terbiasa jujur dan teliti dalam informasi, maka kepercayaan (trust) antar sesama warga akan menguat. Tanpa kepercayaan, sebuah peradaban akan runtuh. Dengan memegang teguh Qoulan Sadida, kita berkontribusi dalam menjaga stabilitas bangsa, menjaga ukhuwah islamiyah, dan pada akhirnya meraih kemenangan yang agung di sisi Allah SWT. Kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara spiritual.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khotbah pertama ini, marilah kita merenung sejenak. Dunia digital adalah ladang amal sekaligus ladang fitnah. Semua tergantung pada bagaimana kita mengelolanya. Mari kita jadikan ponsel di tangan kita sebagai saksi kebaikan kita di hadapan Allah, bukan sebagai alat yang menyeret kita ke dalam api neraka karena fitnah dan hoaks yang kita sebarkan.

Ingatlah, setiap huruf yang kita ketik, setiap gambar yang kita bagikan, dan setiap video yang kita teruskan, semuanya tercatat dengan rapi. Jangan biarkan jempol kita menjadi lebih liar daripada hati kita. Mari kita kembali ke tuntunan Al-Qur'an: lakukan tabayyun, hindari kedustaan, sadari pengawasan Allah, dan bicaralah hanya dengan kebenaran. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita, menjaga lisan dan jari-jari kita dari perbuatan yang sia-sia, dan mengumpulkan kita semua dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan selamat di dunia maupun di akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah sebaik-baik bekal kita, baik dalam kehidupan di dunia maupun saat kita menghadap Sang Khalik di akhirat kelak.

2. Isi Singkat

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib ingin kembali menegaskan betapa krusialnya menjaga lisan dan jempol kita di era banjir informasi saat ini. Sebagaimana telah diuraikan pada khotbah pertama, prinsip tabayyun atau verifikasi bukan sekadar etika sosial, melainkan kewajiban syariat yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Ingatlah bahwa setiap berita bohong yang kita sebarkan, setiap fitnah yang kita teruskan, dan setiap hoaks yang merusak nama baik sesama, akan menjadi beban dosa yang amat berat. Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang amal jariyah, bukan justru menjadi sumber dosa jariyah. Jadilah pribadi yang bijak: saring sebelum sharing, dan pastikan setiap informasi yang keluar dari tangan kita adalah kebenaran yang membawa maslahat, bukan kerusakan.

Selanjutnya, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

3. Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Ya Allah, bimbinglah kami agar senantiasa berada di jalan kebenaran. Jauhkanlah lisan dan hati kami dari keinginan untuk menyebarkan fitnah, hoaks, dan kebencian. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang mampu menjaga persatuan dan ukhuwah di tengah arus informasi yang tidak menentu.

Ya Allah, berikanlah kedamaian, keamanan, dan keberkahan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Lindungilah negeri ini dari segala perpecahan dan fitnah yang merusak keharmonisan. Angkatlah derajat bangsa kami menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.