Khotbah Jumat · Kebangsaan, Kepemimpinan & Keadilan · 28 September 2026

Melawan Bahaya Korupsi dan Suap sebagai Perusak Bangsa

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan Semesta Alam yang tak henti-hentinya mengucurkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan yang memungkinkan kita melangkahkan kaki menuju rumah Allah yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Di hari yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam kesunyian maupun di tengah keramaian, baik dalam urusan pribadi maupun dalam urusan berbangsa dan bernegara.

Hari ini, kita hidup di tengah dinamika bangsa yang besar, namun sekaligus menghadapi tantangan moral yang luar biasa. Salah satu penyakit kronis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan kita adalah praktik korupsi dan suap-menyuap. Masalah ini bukan sekadar persoalan hukum atau politik, melainkan masalah akidah dan akhlak yang sangat serius. Oleh karena itu, melalui mimbar yang mulia ini, mari kita merenung sejenak tentang bahaya korupsi dan suap sebagai perusak bangsa, agar kita semua terhindar dari murka Allah SWT.

2. Isi Materi

Poin pertama: Bahaya Risywah (Suap) dan Laknat Allah bagi Pelakunya

Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah,

Dalam literatur fiqih, suap dikenal dengan istilah risywah. Secara terminologi, risywah adalah pemberian sesuatu kepada seseorang yang memiliki otoritas atau jabatan agar orang tersebut melakukan sesuatu yang tidak benar, atau membatalkan sesuatu yang benar demi kepentingan si pemberi. Praktik ini sering kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari urusan birokrasi yang kecil hingga kebijakan negara yang besar. Banyak orang menganggapnya sebagai "uang pelicin", "uang terima kasih", atau "tanda mata", namun di mata syariat, esensinya tetaplah haram dan merupakan dosa besar.

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat keras mengenai hal ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau bersabda:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya: "Rasulullah SAW melaknat orang yang memberi suap dan orang yang menerima suap." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Kata "laknat" dalam hadits ini bukanlah kata yang ringan. Laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Bayangkan, jamaah sekalian, bagaimana mungkin hidup kita akan berkah, bagaimana mungkin doa-doa kita akan dikabulkan, jika dalam setiap suap nasi yang kita makan atau setiap fasilitas yang kita nikmati terdapat harta yang didapat dari jalan yang dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya?

Dalam konteks masyarakat perkotaan saat ini, godaan suap sering kali datang dalam bentuk yang halus. Misalnya, memberikan uang tambahan kepada petugas agar urusan administrasi kita didahulukan, atau memberikan hadiah kepada atasan agar kita mendapatkan promosi jabatan secara tidak adil. Kita mungkin merasa itu hal sepele, namun secara sistemik, hal ini merusak keadilan. Ketika suap menjadi budaya, maka hukum tidak lagi tegak berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan siapa yang membayar lebih tinggi. Inilah awal dari kehancuran sebuah peradaban.

Hikmah dari menjauhi risywah adalah terjaganya kesucian hati dan keberkahan rezeki. Harta yang sedikit namun halal jauh lebih baik daripada harta melimpah yang didapat dari jalan suap. Harta halal akan membawa ketenangan di dunia dan keselamatan di akhirat, sementara harta haram hanya akan menjadi bahan bakar api neraka yang membakar pelakunya.

Poin kedua: Korupsi sebagai Pengkhianatan terhadap Amanah Bangsa

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Korupsi pada hakikatnya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Setiap pejabat publik, pegawai, atau siapa pun yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola harta atau urusan orang banyak, sesungguhnya ia sedang memikul amanah yang sangat berat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfal ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal: 27).

Korupsi terjadi ketika seseorang menyalahgunakan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Di era digital ini, kita sering melihat berita tentang pejabat yang tertangkap karena mengorupsi dana bantuan sosial, dana infrastruktur, hingga dana pendidikan. Ini adalah bentuk pengkhianatan yang nyata. Mereka tidak hanya mengkhianati negara dan rakyat, tetapi yang lebih utama, mereka mengkhianati Allah SWT yang telah memberikan mereka kesempatan untuk mengabdi.

Contoh aplikatif dalam kehidupan kita adalah ketika kita bekerja di sebuah instansi atau perusahaan. Menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi secara berlebihan, memanipulasi laporan keuangan, atau memotong anggaran yang seharusnya menjadi hak orang lain, adalah benih-benih korupsi. Kita sering kali terjebak pada pemikiran bahwa "semua orang juga melakukannya". Namun ingatlah, kebatilan yang dilakukan oleh banyak orang tetaplah sebuah kebatilan. Kita harus berani menjadi pribadi yang berintegritas, yang memegang teguh amanah meskipun lingkungan sekitar kita mungkin tidak mendukung.

Hikmah dari menjaga amanah adalah tegaknya kepercayaan publik. Sebuah bangsa akan kuat jika rakyatnya percaya kepada pemimpinnya, dan pemimpinnya benar-benar bekerja untuk rakyat. Tanpa amanah, sebuah negara akan rapuh dan mudah hancur dari dalam. Dengan menjaga amanah, kita tidak hanya menyelamatkan bangsa ini, tetapi juga menyelamatkan diri kita dari tuntutan yang berat di hadapan mahkamah Allah kelak, di mana setiap rupiah yang kita kelola akan dimintai pertanggungjawabannya.

Poin ketiga: Dampak Sosial Korupsi: Merampas Hak Kaum Dhuafa

Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah,

Korupsi bukan hanya soal angka-angka di atas kertas atau kerugian negara secara finansial. Dampak yang paling menyakitkan dari korupsi adalah penderitaan rakyat kecil. Setiap rupiah yang dikorupsi dari dana pembangunan adalah hak rakyat yang dirampas. Jalanan yang rusak dan menyebabkan kecelakaan, sekolah yang roboh, hingga layanan kesehatan yang buruk, sering kali berakar dari praktik korupsi yang memotong anggaran publik.

Allah SWT melarang keras perbuatan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 188, Allah berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: "Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 188).

Ayat ini dengan tegas mengaitkan antara memakan harta secara batil dengan praktik suap kepada penguasa atau hakim. Tujuannya jelas: untuk merampas hak orang lain. Dalam konteks kebangsaan, korupsi adalah bentuk kezaliman sosial yang paling nyata. Ketika seorang pejabat mengorupsi dana bantuan sosial, ia secara langsung sedang mencekik leher kaum dhuafa yang sedang kelaparan. Ketika anggaran pendidikan dikorupsi, ia sedang mematikan masa depan anak-anak bangsa yang ingin sekolah.

Sebagai masyarakat yang aktif di media sosial, kita sering kali hanya menjadi penonton atau pemberi komentar pedas terhadap kasus korupsi. Namun, kita juga harus mawas diri. Apakah kita pernah menjadi bagian dari sistem yang menindas tersebut? Misalnya, dengan memaklumi praktik "pungli" demi kenyamanan pribadi. Kita harus sadar bahwa setiap tindakan koruptif, sekecil apa pun, berkontribusi pada rusaknya tatanan keadilan sosial.

Hikmah dari memerangi korupsi adalah terciptanya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Islam sangat menekankan pentingnya distribusi kekayaan yang adil agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya saja. Dengan memberantas korupsi, kita sedang menjalankan misi kemanusiaan untuk melindungi hak-hak kaum lemah dan memastikan bahwa setiap warga negara mendapatkan apa yang menjadi haknya secara bermartabat.

Poin keempat: Membangun Integritas di Era Digital dan Budaya Flexing

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Tantangan melawan korupsi di zaman sekarang semakin kompleks dengan adanya media sosial. Kita hidup di era di mana "flexing" atau pamer kekayaan menjadi tren. Banyak orang merasa harus terlihat kaya dan sukses di dunia maya, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta demi pengakuan sosial. Keinginan untuk tampil mewah secara instan inilah yang sering kali menjadi pintu masuk bagi perilaku korupsi dan suap.

Islam mengajarkan kita untuk selalu berkata jujur dan bertindak lurus. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 70-71:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." (QS. Al-Ahzab: 70-71).

Membangun integritas di era digital berarti kita harus memiliki keberanian untuk jujur, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Kita tidak perlu terjebak dalam perlombaan pamer harta yang tidak jelas sumbernya. Sebaliknya, kita harus menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai kejujuran dan transparansi. Jika kita melihat ketidakadilan atau praktik korupsi, kita memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara, tentu dengan cara yang santun dan sesuai hukum.

Contoh aplikatifnya adalah dengan membiasakan gaya hidup sederhana (qana'ah). Jika kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, maka keinginan untuk melakukan korupsi akan terkikis. Selain itu, sebagai orang tua, kita harus menanamkan nilai kejujuran kepada anak-anak kita sejak dini. Jangan biarkan mereka melihat kita melakukan kecurangan, sekecil apa pun itu, karena pendidikan karakter dimulai dari rumah. Di tempat kerja, jadilah pribadi yang berani menolak pemberian yang tidak jelas asal-usulnya (gratifikasi), meskipun itu membuat kita tidak populer di mata rekan kerja.

Hikmah dari memiliki integritas adalah ketenangan jiwa. Orang yang jujur tidak akan pernah takut dengan audit manusia, apalagi audit Allah SWT. Integritas akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah dan di mata manusia. Kemenangan yang agung, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, bukanlah kemenangan karena memiliki harta melimpah dari hasil korupsi, melainkan kemenangan karena berhasil menjaga kesucian diri dan ketaatan kepada Allah di tengah godaan dunia yang begitu dahsyat.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khotbah pertama ini, marilah kita merenungkan kembali bahwa korupsi dan suap adalah musuh nyata bagi agama dan bangsa kita. Ia adalah rayap yang menghancurkan bangunan negara dari dalam. Ia adalah racun yang mematikan hati nurani. Mari kita bertekad untuk memutus rantai korupsi mulai dari diri kita sendiri, keluarga kita, dan lingkungan terkecil kita.

Ingatlah bahwa setiap harta yang kita kumpulkan akan ditanya dari mana didapatkan dan ke mana dibelanjakan. Jangan sampai kita menghadap Allah dengan membawa beban dosa karena telah memakan hak orang lain atau merusak tatanan bangsa dengan suap-menyuap. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita, para pemimpin kita, dan seluruh rakyat Indonesia agar menjadi bangsa yang jujur, amanah, dan berintegritas, sehingga negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهٖ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ مَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa keberuntungan di dunia dan akhirat hanya dapat diraih oleh mereka yang istiqamah dalam ketakwaan dan menjaga integritas dirinya di hadapan Sang Khalik.

2. Isi Singkat

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Melalui mimbar yang mulia ini, kami kembali mengingatkan dan menegaskan pesan khotbah pertama mengenai bahaya korupsi dan suap. Perbuatan ini bukan sekadar pelanggaran hukum negara, melainkan sebuah dosa besar yang mengundang laknat Allah SWT. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanah rakyat dan penghancur sendi-sendi keadilan sosial. Harta yang diperoleh dari jalan yang batil tidak akan pernah mendatangkan keberkahan, melainkan akan menjadi api yang membakar diri dan keluarga kita di akhirat kelak.

Oleh karena itu, marilah kita bentengi diri dan keluarga kita dengan sifat qana’ah—merasa cukup dengan rezeki yang halal—serta menjauhi gaya hidup mewah yang melampaui kemampuan. Mari kita bangun bangsa ini dengan kejujuran, dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan integritas, kita dapat menyelamatkan negeri ini dari kehancuran dan meraih rida Allah SWT.

Selanjutnya, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 56:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

3. Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas jalan kejujuran. Jauhkanlah kami, keluarga kami, dan pemimpin-pemimpin kami dari godaan harta yang haram, dari perilaku korupsi, suap, dan segala bentuk kezaliman yang merusak bangsa ini.

Ya Allah, jadikanlah bangsa Indonesia negeri yang aman, makmur, dan sejahtera di bawah naungan ampunan-Mu. Berikanlah kekuatan kepada kami untuk senantiasa menjaga amanah dan menjunjung tinggi keadilan. Karuniakanlah kepada kami pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Mu dan menyayangi rakyatnya.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهٖ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.